BANDA ACEH - Filolog asal Aceh, Hermansyah, mengimbau pemerintah secara khusus dan peneliti sejarah atau pengambil kebijakan secara umum untuk mengkaji atau meneliti kembali terkait…
BANDA ACEH – Filolog asal Aceh, Hermansyah, mengimbau pemerintah secara khusus dan peneliti sejarah atau pengambil kebijakan secara umum untuk mengkaji atau meneliti kembali terkait sejarah. Ini termasuk sejarah daerah-daerah yang ada di Indonesia.
“Tidak serta merta mengutip/copy tanpa dasar yg kuat,” tulis dosen UIN Ar-Raniry yang sedang menjalani study di Jerman ini melalui pesan WhatsApp kepada portalsatu.com, Rabu, 21 Desember 2016 pagi.
Pernyataan Hermansyah ini berkaitan dengan pro kontra gambar Cut Nyak Meutia tidak berhijab di uang Rp 1.000 baru yang dikeluarkan Bank Indonesia. Menurutnya, dalam kasus uang Rp 1000 yang menampilkan gambar Cut Nyak Meutia tersebut perlu ditelusuri lagi.
“Bukan hanya permasalahan jilbab atau kerudung yang jadi polemik, sebagaimana protes oleh beberapa pihak, tetapi sumber foto tersebut juga dipertanyakan. Siapakah pelukis foto? Dan apa latar belakangnya,” katanya.
Berdasarkan penelusuran Hermansyah diketahui foto yang dicantumkan dalam uang Rp 1.000 baru itu direproduksi pada 1970-an, dari foto lainnya yang lagi trend di awal era 1900-an.
Di sisi lain, alumni Pesantren Modern Misbahul Ulum ini juga meminta kedua belah pihak, baik pro atau kontra, agar mampu menghadirkan bukti-bukti otentik tentang sumber sejarah. “Bukan hanya klaim apalagi copy paste,” katanya.[]