Kepergian Mursyid dan ulama kharismatik Abuya Jamaluddin Waly Al-Khalidy membawa duka yang sangat mendalam masyarakat Aceh pada umumnya. Kepergian ulama tidak dapat diganti laksana kehilangan…
Kepergian Mursyid dan ulama kharismatik Abuya Jamaluddin Waly Al-Khalidy membawa duka yang sangat mendalam masyarakat Aceh pada umumnya. Kepergian ulama tidak dapat diganti laksana kehilangan sosok pejabat negara. Masyarakat yang bertakziah ke rumah duka yang berada di kompleks Dayah Darussalam Labuhan Haji tak terhitung jumlahnya
Hingga hari seunujuh (ketujuh) para tamu yang bertakziah makin hari terus meningkat yang datang dari berbagai penjuru di Aceh bahkan luar Aceh.
Teungku Azwar Anas menyebutkan, para pentakziah terus bertambah dan tidak beda-bedanya hingga senujuh (hari ketujuh kematian).
“Kami keluarga memantau para pentakziah baik alumni maupun masyarakat biasa bahkan perangkat aparatur pemerintah juga turut hadir,” kata menantu almarhum Abuya Ruslan Waly yang juga alumni Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga ini.
Suasana maqbarah Abuya Jamaluddin Waly yang selokasi denngan ayahanda beliau Syaikhul Islam Al-Mukarram Abuya Muda Waly dipenuhi masyarakat yang berdesakan untuk bertahlilan dan samadiah. Acara tersebut turut dihadiri Abu Ishak Langkawi, Abu Kuta Fajar, Abu Matang Perlak dan beberapa pimpinan dayah lainnya.
Masyarakat mengharapkan roda pendidikan tetap berlangsung seperti biasa sebagai diungkapkan oleh oleh salah seorang pentakziah, “walaupun Abuya telah tiada, namun hendaknya dayah Labuhan Haji ini sebagai tempat yang telah banyak melahirkan ulama dan intelektual muslim harus mampu berkontribusi sepenuhnya untuk hal tersebut,” ujar Saifullah A. Bakar, S.ST, pelayat dari negeri Pedir itu yang juga mahasiswa Pasca Sarjana Unsyiah tersebut di sela-sela kenduri seunujoh Abuya Jamaluddin Waly tadi sore, Kamis, 28 Juli 2016.[]
Dikirim oleh Bang Helmi