TERKINI
NEWS

Setelah 7 Tahun, Jerman Akhiri Bantuan Konservasi Candi Borobudur

Proyek konservasi warisan budaya dunia antara Pemerintah Republik Federal Jerman dengan Indonesia, yang difasilitasi oleh UNESCO kantor Jakarta, di Candi Borobudur Magelang, Jawa Tengah, telah…

DETIK Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 721×

Proyek konservasi warisan budaya dunia antara Pemerintah Republik Federal Jerman dengan Indonesia, yang difasilitasi oleh UNESCO kantor Jakarta, di Candi Borobudur Magelang, Jawa Tengah, telah berakhir.

Selama tujuh tahun, negara tersebut telah memfasilitasi sekaligus mendanai sejumlah konservator dari Indonesia.

Mereka berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan ilmiah dan peningkatan kapasitas dalam bidang penyelamatan warisan budaya, salah satunya Candi Borobudur.

Para ahli dari Jerman, serta para konservator dari Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta, BPCB Jawa Tengah dan Balai Konservasi Borobudur (BKB) terlibat aktif dalam proyek ini.

Hendrik Berkeling, Charge d'Affairs ai of Germany Embassy in Jakarta, mengatakan, proyek ini telah menghasilkan beberapa hasil nyata yang signfikan dan berkelanjutan baik dalam bentuk pelestarian cagar budaya dunia itu, maupun peningkatan kapasitas staf BKB.

Hasil nyata yang dimaksud, katanya, antara lain pembelian peralatan laboratorium baru, pelatihan-pelatihan bagi pelaksana konservasi dan masyarakat dalam bentuk workshop; konservasi batu; dokumentasi foto.

Selain itu, praktek penerapan sistem dokumentasi; identifikasi jenis batu; pemetaan pola kerusakan; identifikasi kepaka patung Buddha hingga analisa sistem pembuangan air dan mitigasi bencana.

“Kami telah mendanai proyek ini sekitar 700.000 euro. Ke depan harapan kami akan ada investor, pemerintah Indonesia atau kelompok masyarakat yang ikut berkontribusi pada upaya konservasi warisan dunia,” ungkap Hendrik, di Borobudur, Minggu (4/11/2017).

Hendrik menegaskan, meskipun tahun 2017 ini merupakan tahun pamungkas, namun pemerintah Jerman tetap akan meneruskan program pelestarian dan dukungan kepada cagar budaya, tidak hanya di Indonesia, tapi juga negara lain.

Prof Dr. Shahbaz Khan, Director and Representative UNESCO in Jakarta, mengemukakan keberhasilan konservasi candi Borobudur merupakan contoh nyata kerja sama internasional dalam hal menjaga warisan budaya dunia.

Proyek ini, lanjut dia, telah menghasilkan sejumlah teknik konservasi baru, berbagai riset dan peningkatan kapasitas konservator.

“Kerja sama ini mempunyai nilai penting bagi situs peninggalan budaya, baik di Indonesia maupun Asia Tenggara dan dunia,” paparnya.

Dukungan pemerintah Jerman ini, ujarnya, sebagai respons atas kejadian-kejadian yang menimpa peninggalan kerajaan wangsa Syailendra abad ke-8 itu sejak 2010 silam, seperti erupsi gunung Merapi, gunung Kelud, gempa bumi dan sebagainya.

Kejadian-kejadian itu berdampak serius pada proses konservasi Candi Borobudur.

“Mereka (Pemerintah Jerman) mendanai 7 proyek penting yang dimulai tahun 2011-2017. Kami bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, khususnya BKB,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala BKB Marsis Sutopo menuturkan, proyek ini lebih kepada proyek non fisik yang diproyeksikan sebagai upaya konservasi Candi Borobudur di masa yang akan datang.

Marsis menyebut, hal ini penting karena mandala Buddha terbesar di dunia ini terus menghadapi lingkungan yang mengancam kelestariannya.

Ancaman-ancaman itu datang dari lingkungan alam, seperti hujan, panas, kelembaban. Lalu dari makhluk hidup, dari binatang sampai tumbuhan.

Belum lagi ancaman bencana erupsi gunung merapi dan ulah manusia sendiri.

“Jadi proyek peningkatan kapasitas ini penting karena Candi Borobudur juga membutuhkan upaya kuratif untuk konservasi jangka panjang. Upaya kuratif tentu membutuhkan sumber daya manusia yang berkompeten,” tutur Marsis. | sumber : kompas

DETIK
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar