TERKINI
HEALTH

Seorang Penuntut Ilmu Harus Memiliki hati yang Bersih

Seorang penuntut ilmu harus menjaga adab dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari baik terhadap guru maupun ahli ilmu. Demikian pentingnya kedudukan adab, sehingga Ibnu Al-Mubarak…

HELMI SUARDI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.5K×

Seorang penuntut ilmu harus menjaga adab dan sopan santun dalam kehidupan sehari-hari baik terhadap guru maupun ahli ilmu. Demikian pentingnya kedudukan adab, sehingga Ibnu Al-Mubarak juga mengatakan, “Barangsiapa meremehkan adab, niscaya dihukum dengan tidak memiliki hal-hal sunnah. Barang siapa meremehkan sunnah-sunnah, niscaya dihukum dengan tidak memiliki (tidak mengerjakan) hal-hal yang wajib. Dan barang siapa meremehkan hal-hal yang wajib, niscaya dihukum dengan tidak memiliki makrifah.”

Dalam pemahaman perkataan di atas sangat pentingnya adab dan sopan santun dalam menuntut ilmu. Di samping juga mereka yang memiliki banyak ilmu tetapi tidak memiliki adab sama sekali, sedikit adab baginya lebih penting dan lebih dia perlukan daripada ilmunya yang banyak yang tidak disertai adab. Pemahamannya bukan berarti kita hanya butuh adab yang sedikit, dan bukan pula berarti tidak butuh ilmu yang banyak. Kita tetap butuh adab yang banyak sekaligus ilmu yang banyak pula.

Terdapat sebuah cerita menarik yang dikisahkan, pernah pada suatu waktu Imam Syafi’i menuturkan apa yang pernah dikatakan oleh gurunya, Imam Malik kepadanya, “Wahai Muhammad (nama Imam Syafi’i), jadikanlah ilmu engkau bagus dan adab engkau halus”.

Berdasarkan kisah tersebut kita apabila ingin memiliki kebahagiaan di dunia dan di akhirat, integrasi ilmu dan adab memang  harus dimiliki, dan tidak boleh dipilih ilmu saja tanpa adab dan etika begitu juga sebaliknya. Melihat fenomena ini sangat patut diapresiasi pesan sebagaimana dituangkan dalam kitab Ihya Ulumuddin, bunyinya “Apabila seorang pengajar menggabungkan tiga hal (memiliki ketiganya), sempurnalah nikmat yang  dirasakan oleh pelajar: Kesabaran, tawadhu’, dan akhlaq yang baik. Dan apabila seorang murid menggabungkan tiga hal (memiliki ketiganya), niscaya akan sempurnalah nikmat yang dirasakan oleh pengajar: akal, adab dan pemahaman yang baik

Dalam literatur turast klasik sangat banyak kisah adab dan etika para ulama salaf saat menuntut ilmu dan juga butiran mutiara hikmah yang dapat kita petik pelajaran (ibrah). Tentunya yang terfokus kepada adap dan etika serta sopan santun terhadap ilmu dan  guru serta ahli ilmu itu sendiri.

Dihikayatkan pada suatu saat Abu Yazid Al-Busthami, seorang tokoh sufi terkemuka di dunia, bermaksud mengunjungi seorang laki-laki yang dikatakan memiliki kebaikan. Maka dia pun menunggunya di sebuah masjid. Orang yang ditunggu itupun keluar, kemudian meludah di masjid, tepatnya di dinding sebelah luar.

Menyaksikan hal itu, Al-Busthami pulang dan tidak jadi bertemu dengannya. Beliau mengatakan “Tidak dapat dipercaya untuk menjaga rahasia Allah, orang yang tidak dapat memelihara adab syari’at.”

Kisah di atas sangat menganjurkan kepada kita penuntut ilmu untuk menjaga adab dan etika dan sebelum memerhatikan perincian adab yang mesti dijaga saat menuntut ilmu. Langkah pertama yang harus dilakukan oleh seorang penuntut ilmu adalah membersihkan hatinya. Hal ini sebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam mukaddimah karyanya berbunyi, “Semestinya seorang pelajar membersihkan hatinya dari kotoran agar layak untuk menerima ilmu, menghafalnya, dan mendapatkan buahnya.” (Imam Nawawi, kitab Syarh al-Muhadzdzab).[]

HELMI SUARDI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar