TERKINI
HEALTH

Sejarah dan Peristiwa di Bulan Safar

Setelah Muharam berlalu, tibalah bulan Safar. Ini merupakan bulan kedua dalam kalender Islam (Hijriah) yang berdasarkan tahun Qamariyah (perkiraan bulan mengelilingi bumi). Muncul pemahaman keliru…

HELMI SUARDI Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 6.5K×

Setelah Muharam berlalu, tibalah bulan Safar. Ini merupakan bulan kedua dalam kalender Islam (Hijriah) yang berdasarkan tahun Qamariyah (perkiraan bulan mengelilingi bumi).

Muncul pemahaman keliru oleh sebagian umat bahwa Safar adalah bulan sial atau bulan bencana. Padahal, mitos Safar bulan sial ini sudah dibantah oleh Rasulullah saw. Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah bersabda, “Tidak ada penyakit menular (yang berlaku tanpa izin Allah), tidak ada buruk sangka pada sesuatu kejadian, tidak ada malang pada burung hantu, dan tidak ada bala (bencana) pada bulan Safar (seperti yang dipercayai).”

Pada kesempatan lain Rasulullah bersabda, “Tidak ada wabah dan tidak ada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa” (HR. Bukhari).

Banyak kisah dan sejarah yang diabadikan di bulan ini sebagai renungan dan rujukan kepada kita dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Di antara kisah yang diabadikan dalam sejarah Islam pada bulan Safar menempatkan peristiwa-peristiwa penting tersebut berkaitan dengan perkembangan Islam dari zaman Rasulullah.

Sebagian sejarah itu adalah:

Pertama, pernikahan Rasulullah dengan Khadijah binti Khuwailid

Menurut beberapa sumber, Rasulullah menikahi Khadijah pada bulan Safar. Menurut Sirah Nabawiyah yang ditulis oleh Syeikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Rasulullah muda menikahi Khadijah atas prakarsa Nafisah binti Munabbih. Mahar yang diberikan Rasulullah berupa unta 20 ekor. Jarak usia lebih tua Khadijah 15 tahun.

Kedua, Tragedi Ar Raji’

Pada tahun 3 H bulan Safar datanglah kepada Rasulullah kaum dari Bani ‘Adhal dan al-Qaarah dan menyatakan bahwa mereka masuk Islam. Dalam Zaadul Maad dikisahkan, kedua kabilah itu meminta dikirim orang-orang yang dapat mengajarkan mereka tentang Islam dan membacakan kepada mereka Alquran. Rasulullah mengutus kepada mereka enam orang.

Ibnu Ishaq dan al-Bukhari menyebutkan, sepuluh orang yang dipimpin oleh Mursyid bin Abi Mursyid al-Ghanawi, yang salah satunya Khabib bin Adi. Namun, ketika rombongan sampai pada suatu tempat bernama Ar Raji’ dua kabilah tersebut berkhianat. Para utusan Islam dibantai dengan dibantu oleh kabilah Hudzail dan menawan Khabib bin Adi dan Zaid bin ad-Datsiah. Kemudian keduanya dijual di Mekkah. Mereka berdualah yang nantinya membunuh tetua kabilah Hudzail pada perang Badar.

Ketiga, Peristiwa Perang Al-Abwa

Dalam Zaadul Maad, peristiwa ini terjadi pada bulan Safar tahun ke-12 Hijrah. Perang Al-Abwa disebut pula dengan Perang Waddaan. Pembawa panji perang saat itu Hamzah bin Abdul Muthalib. Ketika itu panji yang dibawa berwarna putih. Kepemimpinan Kota Madinah sementara waktu diserahkan kepada Saad bin Ubadah. Perang ini dilakukan khusus untuk menyergap kafilah Quraisy, tapi tidak membuahkan hasil.

Pada peristiwa ini Rasulullah berpesan kepada Makhsyi bin Amr adh-Dhamari, yang merupakan pemimpin Bani Dhamrah kala itu, untuk tidak saling berperang dan tidak membantu lawan. Perjanjian dibuat tertulis. Itu berlangsung selama lima belas malam.[]

HELMI SUARDI
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar