TERKINI
NEWS

Seberapa Penting Oleh-oleh Bagi Rakyat Filipina?

Makna pasalubong lebih dari sekadar suvenir atau hadiah. Kata itu menyimpan ritual dan makna yang berlapis-lapis.

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 878×

SEBAGAI seorang putri dari ibu yang berstatus buruh migran, saya selalu berharap menerima pasalubong dari Mama ketika masih kanak-kanak. Pasalubong datang beberapa bulan sekali di dalam kardus yang dikirim Mama dari luar negeri. Isinya penuh dengan coklat, makanan kalengan, pengharum, pakaian, sepatu, dan apapun yang tidak bisa dibeli atau ditemukan di Filipina.

Barang-barang ini ditata secara rapi oleh Mama, yang berharap bisa mengisi kekosongan di dalam hati anak-anak karena orang tua bekerja di luar negeri.

Kata 'pasalubong' dalam bahasa Tagalog berakar dari kata 'salubong', artinya 'bertemu' atau 'menyambut'. Ketika diawali dengan kata 'pa', salubong berubah tindakan aktif. Dengan demikian, pasalubong adalah oleh-oleh atau suvenir yang diberikan kepada seseorang.

Awal ritual pasalubong sulit dilacak. Dr Nestor Castro, seorang pakar antropologi di University of the Philippines, meyakini pasalubong adalah praktik orang-orang Filipina pada era sebelum penjajahan Spanyol mengingat kata tersebut berasal dari bahasa Tagalog dan komunitas masa itu terlibat dalam perdagangan jarak jauh.

Dr Michael Tan, pakar antropologi lainnya di University of the Philippines, sepakat dengan dugaan tersebut.

“Saya mengira itu berasal dari suatu masa ketika bepergian sulit sehingga orang yang kembali ke rumah disambut dengan haru. Semakin jauh dan semakin sulit tempat yang dituju, seperti yang sekarang dialami orang-orang Filipina di luar negeri, semakin penting membawa sesuatu untuk orang-orang di kampung halaman,” tulis Tan.

filipinaHak atas foto AFP/GETTY IMAGES

Image captionPara buruh migran Filipina di luar negeri secara rutin mengirim kardus berisi oleh-oleh kepada keluarga dan teman di kampung halaman.

Budaya pasalubong ternyata tak hanya dilakukan orang Filipina. Teman kerja saya dari negara lain membawa pasalubong seperti nougat dan macaron dari Prancis dan cokelat dari Australia. Sebagai tanda iktikad baik, kami memastikan mereka membawa pulang oleh-oleh khas Filipina, seperti pajangan kerbau dari kayu atau replika jeepney (transportasi khas Filipina). Manakala kami mengunjungi mereka di luar negeri, kami membawa mangga kering yang merupakan pasalubong favorit dari Filipina.

Makna tersembunyi dari tindakan saling memberi oleh-oleh adalah bagian penting dari ritual pasalubong. Ekspresi menghargai dan kebahagiaan ketika sang pemberi oleh-oleh pulang ke kampung halaman juga menjadi bagian penting.

Buruh migran Filipina sangat diharapkan membawa pasalubong.

“Karena mereka pergi ke luar negeri dan diasumsikan mendapat uang banyak, pasalubong adalah bentuk dari berbagi kekayaan,” jelas Dr Racelis.

“Pasalubong untuk keluarga dekat dinilai sebagai kompensasi atas kepergian si buruh migran selama beberapa waktu dan atas beban yang diakibatkan oleh ketiadaan si buruh migran,” tambahnya.

Semakin banyaknya buruh migran Filipina di sejumlah negara, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait, telah menciptakan fenomena kardus oleh-oleh.

“Kardus oleh-oleh adalah respons kreatif pengusaha pengirim paket yang paham bahwa banyak buruh kigran mengirim banyak kardus oleh-oleh ke kampung halaman. Mereka paham tuntutan pasar dan menanggapinya dengan merancang serta menjual kardus kokoh, mudah dirakit, dan pas untuk pengiriman menggunakan pesawat,” papar Dr Racelis.

Kardus oleh-oleh dinilai telah menjadi wadah pasalubong, meski si buruh migran belum pulang ke kampung halaman.

“Tatkala seseorang pergi ke tempat yang jauh, mereka kembali membawa pasalubong. Namun, untuk kardus oleh-oleh, benda-benda itu dikirim ke kerabat dan teman walau si pengirim belum kembali,” tutur Dr Castro.

filipinaHak atas fotoAFP/GETTY IMAGES

Image captionKetika barang-barang impor semakin mudah diperoleh di Filipina, apakah pasalubong dari buruh migran mulai kehilangan makna?

Dengan semakin mudahnya bepergian dan mengirim kardus oleh-oleh, apakah pasalubong mulai kehilangan makna?

“Lantaran banyak barang-barang semakin mudah diperoleh, beberapa tipe pasalubong tidak lagi punya makna yang kuat,” ujar Dr Castro.

Dr Michael Tan, pakar antropologi di University of the Philippines, menulis: “Ketika Anda banyak bepergian, sebagaimana saya, pasalubong menjadi kewajiban membosankan ketimbang tindakan berbagi kebahagiaan dan kemurahan hati. Karena kita merasa diwajibkan membawa sesuatu untuk semua orang, kita memilih apapun yang kita bisa untuk diberikan.”

Dr Racelis menemukan adanya kemuakan sejumlah buruh migran karena meladeni kerabat dan keluarga yang terlalu banyak berharap mendapat pasalubong. Menurutnya, ketika pertama kali ke luar negeri, rata-rata buruh migran gembira berbagi keuntungan selama bekerja di mancanegara dan menunjukkan kesuksesan mereka dengan membawa beragam pasalubong.

Akan tetapi, saat memberi pasalubong mulai menggerogoti tabungan, perasaan gembira itu semakin menurun setiap kali mereka pulang ke Filipina.

Bagaimanapun, pasalubong tetap menjadi perilaku khas dalam budaya Filipina.

“Pasalubong tetap memenuhi fungsi untuk menyatukan orang-orang Filipina dari luar negeri dengan komunitas masing-masing serta menguatkan hubungan kekerabatan dan pertemanan,” kata Dr Racelis.

“Kita sebaiknya jangan meremehkan ketahanan budaya. Kekangenan memberi dan menerima pasalubong menghubungkan orang Filipina dengan kampung halaman dan peninggalan,” tutupnya.[]Sumber:BBC

Versi bahasa Inggris tulisan ini dapat Anda baca dengan judul What the Philippines can teach us about giving di BBC Travel

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar