Oleh: Taufik Sentana* Sapi sapi kurus sempat jadi konsumsi berita dan juga menjadi parodi manajemen sosial kita. Lebih mudah menyebut demikian dari sekadar ironi…
Oleh: Taufik Sentana*
Sapi sapi kurus sempat jadi konsumsi berita dan juga menjadi parodi manajemen sosial kita. Lebih mudah menyebut demikian dari sekadar ironi kepemimpinan.
Konon, sapi sapi itu banyak yang mati sebelum dialihkan untuk kepentingan masyarakat. Padahal awalnya untuk dirawat dan dikembangkan pemerintah.
Duh, sapi sapi kurus dalam kelimpahan anggaran dan sumberdaya pangan. Kiranya ia jadi isyarat halus tentang yang akan terjadi kemudian.
Hari ini, saat pandemi belum reda
muncul gelaja resesi dan gangguan angkatan kerja.
Disebut pula ekonomi kita berpotensi negatif dan yang lebih parah, krisis pangan mengintai: becana kelaparan dan kemiskinan.
Benarlah, sapi sapi kurus itu
jadi isyarat halus tentang struktur sosial kita.
Kita tidak hanya butuh “gerakan menanam”, tapi lebih butuh pada
teladan yang ” menggerakkan dan menanam” kebajikan publik dengan kebijakan yang tidak birokratis-formalistik agar keadilan bisa mengalir.[]
*Peminat prosa dan literasi sosial