TERKINI
GAYA

Sanggar Kesenian Aceh UGM; Sederet Prestasi di Pentas Dunia

BERDIRI sejak 2011, Sanggar Kesenian Aceh Universitas Gadjah Mada (SAKA UGM) Yogyakarta telah meraih sederet prestasi di tingkat nasional hingga pentas dunia. Terakhir, salah satu…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 1.8K×

BERDIRI sejak 2011, Sanggar Kesenian Aceh Universitas Gadjah Mada (SAKA UGM) Yogyakarta telah meraih sederet prestasi di tingkat nasional hingga pentas dunia. Terakhir, salah satu unit kegiatan mahasiswa (UKM) tari di universitas ternama itu memeroleh dua penghargaan sekaligus dalam kegiatan 11th Surin International Folklore Festival and Symposium (SIFFS) di Thailand, akhir Januari 2016.

Dikutip dari sakaugm.wordpress.com, SAKA UGM dibentuk pada 27 Mei 2011 oleh Cindy Fadilla (Fakultas Ilmu Budaya/FIB 2008) sebagai ketua dan Ellin Khairani (FIB 2010) wakil ketua. Sanggar ini bertujuan untuk mewadahi minat para mahasiswa UGM dalam berkesenian dan mengembangkan kesenian Aceh sebagai salah satu kekayaan seni dan budaya Indonesia.

Mulanya, hanya diajarkan beberapa tarian Aceh untuk perempuan seperti Rampoe, Tarek Pukat, serta Ranup Lampuan. “Namun kami berharap suatu saat nanti sanggar ini akan besar dan dapat mewadahi minat berkesenian Aceh di bidang lain,” demikian keterangan SAKA UGM.

Pada 16 Desember 2012, SAKA UGM mengadakan pertemuan sehari di T101 Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Musyawarah itu beragendakan penetapan AD dan ART, laporan pengurus, serah terima jabatan ketua, dan kegiatan lainnya.

Serah terima jabatan ketua SAKA UGM saat itu dari Cindy Fadilla kepada Ellin Khairani, seorang mahasiswa perantauan asal Lhokseumawe. Kala itu, Ellin sedang belajar Antropologi Budaya di UGM, dan ia juga salah satu pendiri SAKA UGM.

“Ellin sudah memiliki banyak pengalaman menari, bahkan sampai ke negeri Cina. Diharapkan dalam kepemimpinan Ellin sekarang, SAKA UGM menjadi lebih matang secara organisasi dan mampu mengembangkan lebih banyak lagi kesenian dan kebudayaan Aceh,” demikian keterangan diposting di sakaugm.wordpress.com, 2 Februari 2013.

Melansir tempo.co, 13 Oktober 2015, SAKA yang baru seumur jagung tumbuh menjadi salah satu komunitas tari Aceh yang cukup dikenal baik dalam lingkup UGM maupun di luar kampus itu. Beberapa prestasi berhasil disabet SAKA. Di antaranya,  juara 1 lomba tari Aceh tingkat nasional dalam acara Gadjah Mada Econolympic 2015 yang diadakan Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, juara 1 Singapore International Art Festival 2013, meraih gelar Highest Online Presence Award dan Chief Minister Award di Sabah International Folklore Festival 2014, serta festival lainnya di Kota Jogja.

Dikutip dari laman resmi UGM, SAKA kemudian berhasil membawa pulang dua penghargaan dalam kompetisi XXII International Art Festival Prague Stars di Praha, Republik Ceko, yakni “1st Place Grand Prix Winner, Highest Valuable Prize for Folklore Category” dan “Best Art Director” pada 4 November 2015.

Ketua delegasi SAKA UGM, Aulia Jasmine mengatakan pada kompetisi ini SAKA menampilkan Tari Likok Pulo untuk lomba dan Tari Rampoe pada awarding night. Kedua tari ini dibawakan secara terpisah oleh penari laki-laki dan perempuan.

“Kompetisi ini diikuti oleh 39 partisipan dari berbagai negara di dunia seperti India, Bulgaria, Rusia, Latvia, Ceko, Spanyol, dan masih banyak lagi,” papar Jasmine dalam siaran persnya, dilansir ugm.ac.id, 6 November 2015.

Jasmine menyebut timnya telah mempersiapkan penampilan mereka selama empat bulan lebih sebelum akhirnya siap untuk berangkat. “Melalui prestasi ini diharapkan Indonesia kian percaya diri dalam menunjukkan budayanya kepada dunia,” ujarnya.

Menurut Jasmine, prestasi yang diraih ini juga tidak lepas dari dukungan UGM, Kemenpora, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, KAGAMA dan KBRI di Republik Ceko.

Tim SAKA UGM latas kembali menorehkan prestasi di panggung internasional. Dua penghargaan berhasil diraih sekaligus dalam kegiatan 11th Surin International Folklore Festival and Symposium (SIFFS), yang diadakan Surindra Rajabhat University di Provinsi Surin, Thailand, 14-25 Januari 2016.

Penghargaan pertama adalah The Pride of Asia, yang didapatkan berdasarkan pilihan dari penonton. Penghargaan lain adalah The Liveliest Perfomance (penampilan paling meriah). Sanggar Ayudha, yang ikut berpartisipasi dalam acara ini, juga mendapatkan penghargaan yaitu The Most Colourful National Costume (pakaian adat paling berwarna) dan 1st Winner Local Food Intenational Competition (juara satu lomba makanan lokal taraf internasional) untuk nasi tumpengnya.

Fahreza Lerian, ketua tim delegasi SAKA UGM, memaparkan festival tersebut merupakan serangkaian acara tahunan yang mengangkat isu perdamaian dunia melalui seni, tradisi, dan budaya. Penyelenggaraan SIFFS tahun ini tidak hanya menyajikan tarian saja, tetapi juga Art Competition, Food Local International Competition, Storytelling International Competition, dan ditutup dengan pernyataan deklarasi perdamaian dunia dari negara peserta.

“Lebih lengkap karena bukan hanya tarian tetapi juga ada festival makanan serta deklarasi perdamaian,” kata Fahreza, dilansir ugm.ac.id, 28 Januari 2016.

Fahreza menyebut persiapan tim untuk mengikuti kegiatan tersebut kurang dari satu bulan. Ada empat tarian yang dibawakan, yaitu Tari Likok Pulo, Tari Kreasi Bungong Jaroe, Tari Ratoeh Duek, serta Tari Kreasi Aceh yang menggabungkan Tari Likok Pulo dan Tari Ratoeh Duek.

Bersama dengan 19 delegasi SAKA UGM lain dari berbagai fakultas mereka memiliki mimpi dan tekad yang kuat untuk dapat mempromosikan dan mengenalkan budaya Indonesia di Negeri Gajah Putih tersebut. Di akhir acara gemuruh tepuk tangan delegasi dari berbagai negara terdengar saat nama SAKA UGM disebutkan dua kali dalam malam puncak penghargaan 11th Surin International Folklore Festival and Symposium.

Itulah SAKA UGM. Mereka telah menunjukkan karya nyata, mengangkat seni budaya Aceh di pentas dunia. Lantas, bagaimana dengan sanggar kesenian di kampus-kampus yang ada di Aceh?[] (idg)

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar