Oleh: Firdaus Yusuf*
PASCA pertempuran pada subuh yang mengerikan itu, Efendi dan rekan-rekannya mundur ke dalam hutan. Tak dinyana, Efendi dan seorang rekannya telah terpisah dari pasukan. Mereka tersesat di hutan.
Kami sudah mencar setelah mundur tadi, kisah pria yang kini berumur 36 tahun itu. (Baca: Sang Desertir Bagian I)
Mereka berdua lalu berjalan, menelusuri hutan. Dalam perjalanan, Efendi dan rekannya itu melihat ada gerak manusia di balik semak-semak dan pepohonan.
Rekan Efendi berteriak, Teh
Tarek, jawab suara yang bergema di seberang, sesaat kemudian.
Itu sandi. Jika tidak ada jawaban atau jawabannya bukan tarek, maka itu bukan teman seperjuangan melainkan musuh.
Kami akhirnya bertemu kembali, tutur Efendi, yang memiliki sandi Atlanta.
Mereka pergi ke kawasan Alue Meuputa. Itu tempat persembunyian yang berlokasi di puncak Teupin Raya, Pidie.
Di situ saya merasa kaki saya sakit. Saya tidak bisa berjalan lagi, ungkapnya.
Saat itu ia merasa menjadi beban bagi dirinya sendiri. Lalu, atas nasihat rekan-rekannya, ia turun ke gampong untuk berobat.
Sesampainya ke bawah, ia dijemput oleh pasukan GAM yang bertugas di bawah, yang memiliki sandi Labang Donya. Efendi dibawa berobat ke Simbe, Kecamatan Sakti, Pidie untuk beberapa waktu.
Kamu jangan naik gunung lagi. Tapi bantu di bawah sini, ujar Labang Donya kepada Efendi.
Kelak, Labang Donya tewas dalam sebuah kontak senjata di areal persawahan di Kemukiman Busu.
Efendi lantas membantu anggota GAM yang bertugas mencari dana di kampung.
Di gampong, Efendi bertemu kembali dengan rekannya, Ismail, yang satu angkatan dan satu tempat latihan dengannya dulu. Sang kawan, yang sejak resmi menjadi anggota GAM, bertugas di kompi yang berbeda dengan Efendi, terpaksa harus turun dari gunung karena sakit.
Situasi semakin genting. Efendi secara pribadi merasa semakin terjepit. Ia kemudian memalsukan KTP. Ia menggunakan KTP merah-putih adik perempuannya, Milawati, untuk bisa keluar dari kampung. Ia mencoret-coret nama asli pada KTP tersebut hingga hilang. Lalu, ia mengambil mesin ketik pada Sekdes untuk mengetikkan namanya pada KTP itu. Ia, Ismail, dan beberapa pasukan GAM lainnya kemudian menetap di Banda Aceh selama beberapa bulan.
Efendi sempat berpikir untuk kembali ke gunung.
Kala pulang ke kampung bersama Ismail, saat itulah tentara mengepung rumahnya dan rumah Ismail. Ismail tewas diterjang peluru, sementara Efendi selamat karena malam itu ia tidak tidur di rumah orangtuanya tapi di rumah neneknya.
Mendengar suara tembakan, Efendi keluar dari rumah neneknya. Di sepanjang jalan, ia menemukan kerumunan tentara.
Ia memberhentikan mobil yang melintas di jalan. Selamatlah ia sampai ke Kota Sigli.
Ia merasakan nelangsa dan seakan hilang arah dalam hidup: teman telah tertembak dan ke gunung pun tak mungkin lagi ia pergi.
Hasballah atau Pak Joko juga menghadapi rentetan musibah. Ia telah kehilangan dua putranya, yang juga anggota GAM: Bahagia dan Yunus. Mereka tewas di dalam peperangan.
Beberapa waktu kemudian, TNI mengepung tempat persembunyian Hasballah di sebuah perdu bambu. Untuk bisa sampai ke tempat persembunyiannya, Hasballah memanjat pohon melinjo lalu masuk ke dalam perdu bambu yang telah ia buat sedemikian rupa, menjadi tempat peristirahatannya.
TNI menggunakan adik ipar Hasballah, yang bernama Hasballah Arsyad, sebagai umpan.
Setelah dipukul, Hasballah atau Pak Joko alias komandan sebelas ditembak di depan warga. Dengan satu tembakan. Tepat di kepala.
SUATU HARI, sebuah berita yang sampai ke telinga Efendi: jika ia tidak menyerahkan diri, orangtuanya akan diambil TNI.
Saya tidak tahan kalau dipukul. Lebih baik ditembak sampai mati, kata Efendi pada Teuku Manyak, yang saat itu menjabat sebagai Mukim Busu.
Teuku Manyak, kini menjabat sebagai salah seorang anggota DPR Kabupaten Pidie dari Partai Demokrat, menuturkan, ia tidak pernah memaksa atau meminta anggota GAM di Kemukiman Busu, termasuk Efendi, untuk menyerah kepada TNI.
Itu permintaan keluarga Efendi. Sekarang, seolah-olah saya yang suruh dia menyerah, kata Teuku Manyak, akhir Desember 2016 silam. Saya juga sudah pastikan pada Efendi saat itu, itu atas kesadaran sendiri, kan? Dan iya dia jawab saat itu.
Meskipun sudah menyerah secara sukarela dan dijanjikan tidak akan dipukul atau disiksa, ternyata Efendi tetap memperoleh perlakuan yang tidak manusiawi di Koramil 09 Mutiara.
Kamu punya HT, kan? tanya seorang tentara di Koramil 09 Mutiara, yang dipanggil dengan panggilan Rambe.
Tidak ada, Pak, jawab Efendi.
Efendi melanjutkan, mencoba semampunya meyakinkan Rambe bahwa ia menjadi anggota GAM karena ikut-ikutan.