YOGYAKARTA – Keeanekaragaman budaya menjadikan Indonesia kaya. Pertukaran budaya melalui mahasiswa dan seiring perpindahan warga menjadikan budaya Indonesia terus tumbuh dan berkembang. Bukan hanya di lingkup sanggar seni, namun kearifan lokal tersebut juga berkembang di dunia kampus.
Salah satunya di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta. Melalui komunitas Rampoe (dibaca: rampo) yang dibentuk sejak 28 Desember 2009 oleh beberapa mahasiswa jurusan Sastra Asia Barat angkatan 2008 dan 2009, berbagai kegiatan pertunjukan seni tari Aceh di wilayah regional, nasional, bahkan internasional telah digelar.
Menurut Surya Timur, pengurus Rampoe UGM, berbagai kegiatan tersebut digelar sejak komunitasnya berada di bawah naungan Departemen Minat dan Bakat Ikatan Mahasiswa Sastra Asia Barat (IMABA) hingga menjadi sebuah Badan Semi Otonom (BSO) resmi milik Fakultas Ilmu Budaya UGM.
Keanggotan Rampoe UGM telah mencapai lebih dari 300 anggota aktif baik dari dalam kampus maupun luar kampus. Di antaranya, ada UII, UIN SUKA, UMY, UAD, UPN, UPY, UTY, UNY, Akper Notokusumo, dan lain-lain, ujar Surya, belum lama ini.
Sesuai dengan namanya diambil dari bahasa Aceh yaitu Rampoe yang berarti beraneka ragam. Rampoe UGM mengajarkan dan menampilkan berbagai macam seni tari dan seni musik tradisional khas Aceh baik yang tradisi maupun kreasi, seperti Tari Likok Pulo, Tari Rateb Meusekat, Tari Ratoeh Duek/Ratoeh Jaroe, Tari Rapai Geleng, Tari Tarek Pukat, Tari Ranup Lampuan, Tari Saman Gayo, dan Tari Seudati, Sedangkan untuk alat musik tradisional ada Serune Kalee, Jinbe, Geundrang, dan Rapai.
Kesemuanya diajarkan seminggu sekali di area kampus UGM (biasanya di gedung Pelataran Sastra Fakultas Ilmu Budaya UGM) dan Pendopo Royal Ambarrukmo Plaza oleh pelatih dari Aceh dan beberapa anggota Rampoe UGM yang telah dipilih koordinator latihan putra dan putri. Latihan berlangsung sesuai tingkatan tarian dan terpisah antara putra dan putri.
Kegiatan yang ada di Rampoe UGM tidak hanya belajar dan mengajarkan kesenian Aceh di internal tim saja. Rampoe UGM juga memiliki program Rampoe Mengajar. Biasanya Rampoe UGM mengirimkan beberapa anggota untuk melatih di sanggar dan sekolah tertentu sesuai dengan undangan dan permintaan di sanggar atau sekolah tersebut.
Surya menambahkan, untuk mengakrabkan dan menjalin silaturahmi antaranggota keluarga yang sudah mencapai tujuh angkatan, Rampoe UGM punya acara keakraban yang biasa disebut SALEUMakronim dari Silaturrahmi dan Malam Keakraban Rampoe UGM. SALEUM digelar setiap satu tahun sekali, ujarnya.