Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) beserta istri Mufidah Kalla merayakan hari ulang tahun pernikahan yang ke-50. Di hari bahagianya ini, JK diminta anak-anaknya untuk membacakan sebuah puisi.…
Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) beserta istri Mufidah Kalla merayakan hari ulang tahun pernikahan yang ke-50. Di hari bahagianya ini, JK diminta anak-anaknya untuk membacakan sebuah puisi.
“Anak-anak saya minta saya bicara, tapi tidak boleh bicara dalam pidato, jadi harus puisi,” ujar JK di The Dharmawangsa Hotel, Jakarta Selatan, Minggu 27 Agustus 2017 malam.
Menurut JK, puisi yang ia bacakan itu merupakan puisi kedua yang pernah ia tulis. Dia mengatakan, pertama kali dirinya membuat puisi saat dirinya berada di Ambon.
“Seumur, saya baru satu kali bikin puisi, satu kali waktu di Ambon dulu. Sekarang terpaksa buat yang kedua kalinya, tujuh halaman,” kata dia.
“Setengah abad yang indah. Di hari Minggu yang sama setengah abad yang lalu, kita duduk bersanding dengan penuh bahagia. Di aula Hotel Negara, Makassar yang pada waktu itu cukup terpandang. Sekarang sudah bubar itu hotel,” ucap JK.
JK terus membacakan puisi yang berisi pengalaman saat dirinya pertama kali bertemu dan menjalin kasih dengan Mufidah.
Dalam puisi, JK mengaku pertama kali melihat Mufidah semasa Sekolah Menengah Atas.
“Kita bersebelahan kelas, karena kau adik kelasku. Aku terpesona dengan kesederhanaanmu. walaupun kau sempat takut, tak peduli padaku. Aku menyukaimu pada detik pertama aku melihatmu,” ujar JK.
“Tujuh tahun lamanya aku berusaha untuk mendekati dan meyakinkanmu. Tapi engkau seperti jinak-jinak merpati. Sama dengan nama jalan di depan rumahmu. Antara mau dan tidak, sering membingungkan, tidak jelas. Aku bersabar, berjuang dengan waktu. Namanya pacaran,” sambung dia.
Seperti Paspampres
Sedari dulu, kata JK dalam puisinya, adik-adik Mufidah seperti paspampres. Selalu mengawal calon istrinya tersebut.
“Walaupun aku punya vespa, tapi kamu enggak pernah mau dibonceng. Selama tujuh tahun kita hanya sekali nonton bioskop. Itupun dengan teman-temanmu. Sehingga untuk bisa memgang tanganmu saja, sangat sulit,” kata dia.
Dalam puisinya, JK mengatakan, masa sulit selalu berakhir dengan manis.
“Akar budaya kita memang berbeda. Antara Bugis dan Minang. Orang tuamu terkadang khawatir karena engkau anak perempuan satu-satunya. Adiknya, laki-laki semua,” kata JK.
JK melanjutkan puisinya. Kata JK, ketika dia datang ke rumah Mufidah, dia harus bersabar mendengar petuah dari orangtua Mufidah dengan lembut.
“Seperti guru menasihati muridnya. Karena memang bapak dan ibumu juga guru. Aku ingin menemuimu, tapi bapakmu menyembunyikanmu,” kenang JK.
Menurut JK dalam puisinya, Mufidah baru akan dipanggil keluar saat dirinya akan pamit untuk pulang. JK sempat menyebut perlakuan orang tua Mufidah tersebut sedikit kejam. Pernyataan JK pun mengundang tawa dari para tamu undangan.
“Datang ke rumahmu sore hari sebelum magrib. Begitu magrib aku berdiri dengan fasih, keluar salat berjamaah yang diimami oleh bapakmu,” kata JK.
JK pun bercerita, dirinya sengaja menjadi asisten dosen yang tak dibayar demi bisa bertemu dengan Mufidah dan melihat senyumannya.
“Keras sekali perjuanganku, tapi demi menatapmu,” kata JK.
“Akhirnya kau luluh juga. Ayahku akhirnya memahami perbedaan adat kita, selain buku dan sahabatnnya memberi nasihat. Mungkin juga setelah membaca buku Hamka, Tenggelamnya Kapal van Der Wijk,” sambung JK.
“Saat orangtuaku melamarmu untuk jadi istriku, aku melihat cakrawala tersenyum, perjuangan cinta bertahun-tahun yang berbuah manis. Setelah kita menikah, aku menjalankan perusahaan ayahku. Kau sekretaris, merangkap keuangan, karena kita belum bisa memegang pegawai tambahan.”
Puisi JK pun berlanjut dengan membicarakan masa-masa pertama pernikahan. Mufidah merawat sendiri anak-anak yang lahir dari rahimnya, tanpa suster. Selama 50 tahun hidup bersama, Mufida merupakan ahli masak terbaik baginya.
“Karenanya kita jarang makan di restoran. Di kantor pun, setiap hari kau kirim makanan. Teman-teman selalu menunggu apa yang akan kau hidangkan. Kau tahu cintamu terus mengitariku karena hidangan yang kau buat.”
“50 tahun kita jalani, 33 tahun di Makassar dan 17 tahun di Jakarta. Sungguh suatu perjalanan yang panjang,” ucap JK.
Dalam puisinya, JK mengaku senang dengan kesederhanaan sang istri. Menurut JK, dalam kesederhanaan sang istri tersimpan energi yang dahsyat.
“Orang Bugis tak fasih berkata-kata indah. Kecintaannya ditunjukkan oleh perilaku, bahasa tubuh, dan senyumnya, untuk romantispun aku tak pandai ucapkan dengan kata-kata. Karena itu aku minta maaf kepadamu, karena selama 50 tahun aku tak pernah beri bunga sambil berucap I love you,” kata JK yang diakhiri dengan tepuk tangan dari para tamu undangan.
“Terima kasih,” Jusuf Kalla mengakhiri puisinya.[]Sumber:liputan6