JAKARTA – Komunitas seniman bekerja sama dengan elemen masyarakat Aceh di Jakarta akan menggelar acara Refleksi Gempa Aceh di Boulevard Coffee & Resto, Apartemen The Boulevard, Tanah Abang, Jakarta Pusat, pada Jumat, 20 Januari 2016 mulai pukul 19.00.
Acara itu akan diisi dengan peluncuran buku puisi karya sekitar 150 penyair, seniman, dan masyarakat se-Tanah Air tentang gempa Aceh yang diberi judul “6,5 SR Luka Pidie Jaya”.
“Buku setebal 246 halaman itu sebagai tanda simpati para seniman dan masyarakat Indonesia, termasuk Malaysia, terhadap korban gempa di Aceh pada 7 Desember 2016,” kata Willy Ana, penyusun buku yang sekaligus koordinator acara, dalam keterangan yang diterima Liputan6.com.
Menurut penyair asal Bengkulu ini, para penyair, seniman dan masyarakat Nusantara tak hanya menulis puisi, melainkan juga ikut serta gotong royong untuk membiayai penerbitan buku dengan cara membeli buku tersebut sesuai kemampuan mereka.
Penyair Nusantara yang menulis puisi untuk Aceh, antara lain Ahmadun Yosi Herfanda, D Kemalawati, Din Saja, Eka Budianta, Fikar W Eda, Fakhrunnas MA Jabbar, Handry TM, Jumari HS, J Kamal Farza, Gol A Gong, Nelson Dino (Malaysia), Rida K Liamsi, Syarifuddin Arifin, Sulaiman Juned, Teja Alhabd, Teuku Dadek, Siwi Wijayanti, dan Zulfaisal Putera.
Selain peluncuran buku, acara itu akan diisi dengan doa bersama, baca puisi, testimoni gempa, lelang buku dan penggalangan dana untuk korban gempa. Selain donasi yang terkumpul dalam acara itu, keuntungan dari penjualan buku akan disampaikan kepada korban gempa dan kegiatan-kegiatan yang ada kaitannya dengan gempa tersebut.
“Kami berencana untuk datang ke sekolah-sekolah di lokasi gempa untuk menghibur anak-anak yang trauma dengan berpuisi, baik dengan mengajak mereka membaca puisi maupun menulis puisi,” tutur Willy.
Willy menuturkan, ide buku itu muncul dalam obrolan dengan penyair Mustafa Ismail, yang memang berasal dari Pidie Jaya, Aceh. Mereka kemudian berbagi tugas.
Willy sebagai kordinator dan penyusun buku dan Mustafa sebagai editor. Setelah itu, Willy mem-posting gagasan itu di media sosial dan Grup WA Ruang Sastra.
“Responsnya sangat positif. Para sastrawan juga sepakat membiayai penerbitan buku itu secara gotong royong,” ujar penulis buku puisi Tabot: Aku Bengkulu itu.