SUBULUSSALAM - Pemerintah Kota Subulussalam melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengoptimalkan potensi tanaman kayu kapur di sepanjang jalan nasional kawasan kedabuhan mulai Kampung Jontor…
SUBULUSSALAM – Pemerintah Kota Subulussalam melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengoptimalkan potensi tanaman kayu kapur di sepanjang jalan nasional kawasan kedabuhan mulai Kampung Jontor sampai Lae Ikan, Kecamatan Penanggalan.
Kawasan tersebut akan ditata kembali dengan penambahan sejumlah infrastruktur pendukung untuk memperindah lokasi Taman Hutan Raya (Tahura), sehingga akan menjadi daya tarik bagi wisatawan asing maupun lokal.
“Tahura ini nantinya akan menjadi lokasi wisata, kita Subulussalam kaya dengan kayu kapur, potensi ini yang sedang kami optimalkan,” kata Kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kota Subulussalam, Syafrianda, S.Hut., M.M., kepada portalsatu.com, Kamis, 19 Januari 2017.
Ia mengatakan Tahura tidak hanya sebagai lokasi wisata saja, tetapi juga bisa dijadikan tempat penelitian ilmu pengetahuan, pendidikan dan penunjang budidaya.
Di kawasan tersebut terdapat pula kayu damar, meranti dan lainnya. Pohon-pohon kayu tersebut terlihat berjejer di sisi kiri dan kanan gunung di jalan lintas Subulussalam-Medan.
Banyaknya pohon-pohon kayu rindang di kawasan itu membuat cuaca terasa sejuk. Hal ini memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang melintasi kawasan Tahura.
Syafrianda menjelaskan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: SK.941/Menhut-II/2013 tertanggal 23 Desember 2013 disebutkan luas Tahura Subulussalam mencapai 1.486 hektare yang terletak di Kecamatan Penanggalan Desa Jontor dan Lae Ikan.
“Dalam waktu dekat nama Tahura Subulussalam akan diajukan ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di Jakarta,” katanya.
Ia memaparkan pembangunan jangka panjang di lokasi Tahura Subulussalam seperti pengelolaan secara makro bersifat indikatif disusun berdasarkan kajian aspek ekologi, ekonomi dan sosial budaya.
Sedangkan rencana pembangunan jangka pendek, kata Syafrianda, seperti perencanaan, perlindungan hutan, pengawasan dan pemanfaatan. Ia menekankan bahwa Tahura Subulussalam telah memiliki master plan pembangunan fasilitas di daerah itu.
Seperti infrastruktur visitor center, guest house (penginapan), shelter (tempat duduk atau pondok tinggi), menara pandang, jalan treal, coservation response unit (CRU) gajah, lokasi out bond, bumi perkemahan dan sejumlah fasilitas lainnya.
“Yang kita jual adalah keindahan hutan, ini bisa menjadi PAD Subulussalam. Semoga ini nanti bisa terealisasi. Sumber anggaran kami upaya dari APBN,” kata Syafrianda.
Selanjutnya, di bawah jembatan Kedabuhan akan dibuat bendungan di dalamnya diisi sejumlah jenis ikan, sehingga akan mempercantik kawasan Tahura nantinya.
“Di lokasi tersebut nanti akan dibangun kafe taria tempat jualan, sehingga pengunjung mudah untuk mendapatkan makanan dan minuman saat berkunjung ke Tahura Subulussalam,” katanya.[]