SIGLI - Puluhan petani garam dari sejumlah kawasan pesisir dalam ikabupaten Pidie dibekali ilmu Manajemen pengolahan garam beryodium oleh Disperindagkap dan Emergi Sumber Daya Manusia (ESDM) Kabupaten Pidie, Jumat 1 April 2016, di…
SIGLI – Puluhan petani garam dari sejumlah kawasan pesisir dalam ikabupaten Pidie dibekali ilmu Manajemen pengolahan garam beryodium oleh Disperindagkap dan Emergi Sumber Daya Manusia (ESDM) Kabupaten Pidie, Jumat 1 April 2016, di Aula Bappeda setempat.
Pelatihan yang dibuka Wakil Bupati Pidie, M. Iriawan, ini bertujuan untuk membangkitkan kembali semangat petani garam tradisional agar dapat bersaing di pasar global. Selama ini banyak petani garam terpaksa gulung tikar akibat kalah bersaing dengan barang dari luar.
Wakil Bupati, dalam arahannya mengatakan, banyak persoalan yang dihadapi para petani garam lokal khususnya di Kabupaten Pidie, diantaranya, keterbatasan modal usaha, sehingga mereka tidak mampu mengembangkan usaha. Rendahnya inovasi, posisi tawar lemah dan kurangnya penampung yang dapat membeli produksi garam petani, membuat para petani lokal bangkrut, katanya.
Persoalan lain yang dihadapi para petani garam, belum terbangun kemitraan pengolahan dan pengemasan hasil produksi hasil produksi belum sesuai standar produk. Kondisi ini, membuat pemerintah perlu memberikan pelatihan serius terhadap para petani garam, sehingga mereka dapat bangkit dari usahanya stagnan menuju kemakmuran, imbuh Iriawan.
Dalam kesempatan itu, dia meminta kepada Disperindagkop dapat lebih proaktif dalam menggali setiap potensi sumber daya alam seperti garam untuk diindustrilisasi. Terus melakukan pendampingan serta memfasilitasi kegiatan promosi hasil produksi masyarakat. Jika ini terus dilakukan, kita yakin taraf hidup petani garam kita akan berubah menuju kemakmuran, pintanya.
Dia juga, memaparkan Kabupaten Pidie yang memiliki wilayah garis pantai cukup luas, tentunya menyimpan potensi alam yang dapat dimanfaatkan untuk ladang usaha pemenuhan kebutuhan pangan. Diantaranya, lanjut Iriawan, sektor garam merupakan salah satu komoditas strategis. Apalagi, dia termasuk dalam kebutuhan sembilan kebutuhan pokok masyarakat.
Kabupaten Pidie dinobatkan, kata Wabup, sebagai daerah penghasil garam terbesar di Aceh dengan jumlah produksi mencapai 3.378 ton/tahun. Areal produksinya mencapai 66,47 Hektar dengan unit usaha mencapai 310 unit yang memiliki tenaga kerja sebanyak 620 orang yang tersebar di Kecamatan Kota Sigli, Simpang Tiga, Pidie, Muara Tiga dan Batee. Kita harus bisa mengembalikan dan membuktikan bahwa kita bisa mengembangkan usaha, apalagi mengahadapi pasar global, harapnya.[](tyb)