TERKINI
SPORT

Pesona Laweung; Dari Boat Warna-Warni hingga Mie Ikan Nan Lezat

HARI hampir sempurna gelap saat kami tiba di Ujong Pi, Laweung hari itu, Kamis, 2 Februari 2017. Benar saja, tak begitu lama setelah kami menikmati…

portalsatu.com Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 5 menit
SUDAH DIBACA 1.7K×

HARI hampir sempurna gelap saat kami tiba di Ujong Pi, Laweung hari itu, Kamis, 2 Februari 2017. Benar saja, tak begitu lama setelah kami menikmati udara pesisir yang beraroma garam, azan magrib pun berkumandang. Langit yang tadinya memerah jingga perlahan menjadi kelabu dan berubah pekat. Di ketinggian sana bulan yang melengkung serupa senyum seorang gadis, tampak kontras dengan warna di sekelilingnya.

Ujông Pi adalah desa pesisir yang langsung menghadap ke Selat Malaka. Sebagian besar warganya berprofesi sebagai nelayan. Meski letaknya terbilang jauh dari pusat Ibu Kota Kabupaten Pidie, kawasan pesisir ini selalu ramai. Keberadaan Tempat Pelelangan Ikan Ujông Pi menjadi sentral aktivitas para nelayan dan pedagang ikan.

Namun, ada magnet lain yang kini mampu menarik wisatawan lokal mau jauh-jauh datang ke Ujông Pi. Yaitu sebuah dermaga yang menjadi spot swafoto bagi pengunjung, khususnya kalangan anak muda. Dari dermaga ini pengunjung tak hanya bisa menyaksikan birunya selat yang memotong wilayah Indonesia dengan Malaysia. Tetapi juga tempat yang asyik untuk menyaksikan betapa indahnya langit sore hari, manakala sang surya beranjak tenggelam.

“Dermaga ini juga menjadi tempat bagi pasangan yang akan menikah untuk melakukan foto pra-wedding,” kata Meutia, seorang teman yang berasal dari Teupien Raya yang berboncengan dengan saya. “Selain di sini juga ada satu tempat lagi yang bagus untuk pra-wedding, di waduk Rajui,” katanya berpromosi.

Tetapi, kalau datang dengan niat hanya untuk menyaksikan sunset, tentu kami sudah sangat terlambat. Dan, kalau hanya untuk melihat pantai, masih banyak pantai lain yang lebih menawan untuk diburu. Namun, kami datang untuk tujuan lain. Untuk seporsi mie ikan yang memanjakan lidah.

“Kita ke Laweung saja, kita makan mie ikan segar dari laut. Di tempat wisata lagi. Ada spot cantik,” kata Rio, blogger Pidie melalui pesan whatsapp bernada provokasi.

Sebenarnya, ini perjalanan tak terencana. Saya yang hari itu berangkat dari Banda Aceh menuju Teupien Raya, Geulumpang Minyeuk, Pidie sejak awal sudah mengontak Rio untuk menyantap mie ikan lele di Simpang Lameu, Kecamatan Sakti. Anak muda yang berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris itu menawarkan diri menjadi guide. Saya menyambutnya dengan senang hati.

Tapi karena waktu yang terbatas, rencana berburu kuliner khas Aceh itupun terpaksa kami alihkan ke Laweung. Tak apalah, yang penting masih sama-sama mie ikan. Bedanya yang ini menggunakan ikan laut.

Demi mie ikan Laweung, sayapun rela berbalik arah dari Grong-grong menuju Simpang Beutong, kemudian melanjutkan perjalanan sejauh tujuh kilometer ke arah pesisir. Rio bersama temannya; Wahyu, Akbar Rafsanjani dan dua lainnya menjadi tuan rumah perjalanan kami hari itu.

Jalan menuju Laweung belum mulus beraspal, tapi pemandangan di sekitar yang berupa kebun dan areal persawahan cukup memanjakan mata senja itu. Apalagi matahari telah redup, udara mulai terasa sejuk. Sesekali suara cacing tanah terdengar di kejauhan.

Setelah berkendara sekitar tiga puluh menit lebih, kami tiba di Ujông Pie. Rio memberhentikan sepeda motornya di depan sebuah warung sederhana. Satu-satunya warung di Ujông Pi yang menjual mie ikan. Tapi sayangnya warung tersebut tutup. Ada acara desa yang tak bisa ditinggalkan si pemilik warung.

“Kita berkeliling saja dulu, lihat-lihat pantai, foto-foto,” kata Rio kemudian.

Kami setuju. Kemudian beranjak meninggal tempat itu dan merapat ke pantai yang jaraknya hanya selemparan batu. Benar saja, apa yang terlihat di depan mata ternyata sangat indah. Belasan atau mungkin puluhan boat berukuran kecil yang terparkir di pinggiran pantai langsung menarik perhatian saya.

Boat-boat itu dicat warna-warni dengan warna-warna yang mencolok seperti merah jambu, kuning, hiau dan biru. Warna-warna atraktif dan hidup. Uniknya, boat-boat itu dilengkapi dengan roda kecil di bagian bawah lambungnya. Ini pertama kalinya saya melihat boat seperti itu. Sejumlah pemuda dan anak kecil bersantai di atas boat.

“Roda itu untuk memudahkan saat nelayan ingin memarkirkan boatnya ke atas sini, kalau tidak ada roda tentunya sulit mendorong boat di atas pasir,” seorang pemuda setempat menjelaskan kepada saya perihal roda-roda mungil berwarna hitam itu.

Saya berkeliling menikmati senja yang perlahan hilang dikulum waktu. Menggunakan kamera handphone seadanya, saya memotret berbagai objek yang menurut saya patut diabadikan.

Berselang menit kemudian Rio dan teman-temannya muncul. Ia menawarkan solusi lain agar kami tetap bisa menikmati mie ikan segar khas Laweung yang antimainstream. “Kita beli ikan tongkol di sini dan membawanya ke keude Laweung, nanti kita makan mienya di sana saja,” tawarnya.

Kami setuju. Rio segera menuju ke satu-satunya pedagang ikan yang masih membuka lapak dagangannya. Setelah menawar, kami membeli seekor tongkol besar seharga Rp 35 ribu. Usai salat magrib kami meninggalkan Ujông Pi yang mulai dipeluk sunyi. Tujuan berikutnya adalah keude Laweung.

Di depan sebuah warung mie yang menghadap ke tugu bundaran pusat kota Laweung, kami terpaksa menunggu sejenak karena warung mie belum buka. Lazimnya di Aceh, warung dan toko tutup untuk sementara waktu saat salat magrib dan Jumat. Beberapa saat kemudian pintu warung berderik, seorang pria setengah baya muncul dari dalam warung.

Rio spontan bangkit, bersama temannya ia segera menuju pria tadi dan menyerahkan ikan tongkol yang kami beli di Ujông Pi. “Untuk berapa orang?” tanyanya. “Tujuh,” jawab Rio.

Kami menunggu sambil mengobrol santai. Akbar Safranjani, mahasiswa Al Hilal Sigli, masih tetap memprovokasi betapa lezatnya mie ikan lele Simpang Lameu. Di beranda Facebook-nya lah saya mengetahui ada olahan mie yang dicampur dengan ikan seungko alias ikan lele di pedalaman Pidie. Dan itu membuat saya sungguh sangat penasaran.

Kira-kira setengah jam kemudian mie ikan tongkol dihidangkan. Aromanya menggoda indera untuk segera mencicipinya. Ini kali pertama saya menyantap mie yang dicampur daging ikan segar. Rasanya tak kalah lezat dibandingkan mie kepiting atau mie udang. Di lidah saya, rasa kuah mie-nya menjadi lebih manis dan gurih. Daging ikannya juga terasa lebih lezat karena dimasak dengan bumbu mie yang kaya rempah. Malam itu kami 'menikmati' pesona Laweung lewat sepiring mie ikan yang maknyusss!!.[]

portalsatu.com
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar