TERKINI
TRAVEL

Perwakilan Konsulat Jenderal Jepang Kunjungi SMPS Sukma di Aceh Utara

LHOKSUKON – Perwakilan Konsulat Jenderal Jepang di Medan, mengunjungi SMPS Sukma Almubarakah, Matangkuli, Aceh Utara, Selasa, 21 Maret 2017. Menurut Direktur Sekolah Sukma Almubarakah, Zubir…

SUDIRMAN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 921×

LHOKSUKON – Perwakilan Konsulat Jenderal Jepang di Medan, mengunjungi SMPS Sukma Almubarakah, Matangkuli, Aceh Utara, Selasa, 21 Maret 2017.

Menurut Direktur Sekolah Sukma Almubarakah, Zubir HT, kedatangan mereka dalam agenda site visit dominasi penerima bantuan Grassrooth Kedutaan Besar Jepang  untuk pembangunan gedung SMPS tersebut.

“Kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari pengajuan permohonan dari kami kepada Kedubes Jepang beberapa waktu lalu. Kunjungan ini hanya dilakukan pada yayasan atau lembaga yang diproyeksi kuat, sebagai penerima bantuan grassrooth Jepang,” ujar Zubir HT kepada portalsatu.com, Rabu, 22 Maret 2017.

Ia menyebutkan, apabila permohonan bantuan itu disetujui Kedubes Jepang di Tokyo, dalam waktu dekat pembangunan gedung SMPS Sukma akan segera terwujud.

“Kami sebagai perwakilan yang ditunjuk untuk berkunjung tidak menjamin hal tersebut. Cuma dapat kami sampaikan, dari beberapa tempat yang telah kami kunjungi selama ini, yayasan Sukma yang terbaik. Semoga bantuan itu disetujui,” kata Zubir menirukan ucapan Ria Damayanti, Perwakilan Konsulat Jenderal Jepang.

Zubir menjelaskan, yayasan dipimpinnya itu memiliki lebih 500 santri, yaitu 112 santri tingkat SMA dan 187 santri tingkat SMP. Sementara sisanya santri umum. Sekolah Sukma Almubarakah berada di bawah Yayasan Pendidikan Islam Almubarakah Kunyet Mule yang berdiri tahun 2009 lalu.

“Kami mengajukan permohonan bantuan pembangunan gedung belajar, sebagai upaya untuk mencukupi sarana dan prasarana yang masih sangat minim. Selama ini santri belajar di atas balai berkontruksi kayu,” ucapnya.

Minimnya perhatian pemerintah dan tidak adanya alokasi khusus untuk peningkatan dan pengembangan dayah, kata Zubir, menjadi salah satu kendala pembangunan sarana dan prasarana pendidikan dayah.

“Padahal hampir 40 persen pendidikan umum, selama ini juga diterapkan di dayah dengan pola salafiah terpadu. SMP dan SMA Sukma ini berdiri sejak tahun 2015. Untuk saat ini masing-masing tingkatan baru memiliki santri kelas I dan II,” pungkas Zubir HT.[]

SUDIRMAN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar