JAKARTA – Prajurit perempuan mulai diberi kepercayaan memegang posisi penting di kapal perang. Mereka telah menunjukkan bahwa perempuan pun mampu menjalankan tugas yang biasa dilakoni oleh prajurit laki-laki, di kapal perang.
Sersan Dua Nur Eka, yang bertugas sebagai juru radar, serius mengamati layar electronic chart display and information system di anjungan kapal perang jenis rumah sakit KRI dr Soeharso, Selasa (26/1/2016). Saat itu, kapal tengah berlayar dari Surabaya, Jawa Timur, menuju Dili, Timor-Leste, untuk misi pelayanan kesehatan.
Nur Eka memantau gerak pelayaran kapal dan keberadaan kapal-kapal lain yang berada di dekat KRI dr Soeharso. Layar itu pun menginformasikan jenis perairan di sekitar kapal, termasuk perairan dalam atau dangkal.
Dengan bantuan layar itu, Nur Eka bisa memastikan bahwa kapal tetap bergerak di jalurnya hingga tiba di Dili. Ia pun bisa memantau bahaya navigasi seperti pergerakan kapal lain, perairan dangkal, atau keberadaan karang dan pulau.
Itulah tugas utama Nur Eka sejak ditempatkan di bagian navigasi KRI dr Soeharso per September 2015. Selain mengerjakan tugas utama, ia juga harus melakukan pekerjaan lain, seperti prajurit laki-laki di kapal perang. Misalnya, membersihkan kapal, mengecat ulang bagian kapal yang kusam, dan menghilangkan karat di kapal.
“Tidak ada perlakuan khusus. Kami melaksanakan tugas yang sama seperti yang dilakukan oleh prajurit laki-laki di kapal ini,” tutur perempuan berusia 21 tahun itu.
Misi pelayanan kesehatan ke Timor-Leste bersama KRI dr Soeharso bukan misi pertama Nur Eka. Sejak ditugaskan di KRI dr Soeharso pada September tahun lalu, ia sudah ikut berlayar untuk melaksanakan misi pelayanan kesehatan pada acara Sail Tomini di Sulawesi Tenggara. Ia juga turut serta ketika KRI dr Soeharso diterjunkan ke Kalimantan untuk membantu korban bencana asap.
Nur tidak sendirian. Ada empat prajurit perempuan lain di KRI dr Soeharso, yaitu Serda Ana Riski di bagian navigasi, Serda Yohani Febrian di bagian bahari, Serda Fuji Rahayuningtyas di bagian komunikasi, dan Serda Lioni Sukma di bagian perbekalan.
Sama seperti Nur, setiap prajurit perempuan itu memegang posisi penting di kapal. Ana Riski, juru mudi pelabuhan, bertanggung jawab mengemudikan kapal ketika kapal bertolak atau sandar di dermaga. Yohani Febrian bertanggung jawab memastikan seluruh platform kapal dalam kondisi prima. Adapun Lioni bertanggung jawab memastikan bekal makanan dan minuman cukup untuk memenuhi kebutuhan kru kapal hingga misi pelayaran usai.
Keberadaan prajurit perempuan di KRI dr Soeharso menunjukkan kepercayaan mulai diberikan pada perempuan untuk ditugaskan di kapal perang. Kepercayaan yang diberikan itu pun tak disia-siakan.