TERKINI
TRAVEL

Pemuda Diajak Bicara Pilkada

Jangan sampai pemuda menjadi “pelacur” politik saat proses Pilkada...

root Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 711×

BANDA ACEH – Pemuda merupakan mitra kritis pemerintah dalam mengawal berbagai permasalahan sosial. Salah satunya adalah mengawal proses pelaksanaan Pilkada Aceh yang akan datang.

Demikian disampaikan Mulizar saat menjadi pembicara dalam diskusi bertajuk “Peran Pemuda Dalam Rangka Mendorong Partisipasi Masyarakat Mewujudkan Pilkada Damai.” Diskusi ini digagas oleh Lembaga Peduli Bangsa (eLingSa) dan berlangsung di 3in1 Cofee, Lampineung, Banda Aceh, Rabu, 26 Oktober 2016.

“KNPI siap mengajak pemuda untuk mengawa proses Pilkada agar berjalan dengan lancar dan damai,” ujar Mulizar yang mewakili KNPI Aceh dalam diskusi tersebut.

Selain Mulizar, diskusi yang dihadiri puluhan peserta dari berbagai lembaga mahasiswa ini turut mengundang Ramzi Murziqin selaku Tim Asistensi Bawaslu Aceh sebagai pembicara. Ramzi dalam pemaparannya lebih melihat bagaimana partisipasi politik pemuda dalam Pilkada.

“Pilkada merupakan proses mencari harapan baru atau kekecewaan baru oleh masyarakat, karena pilkada merupakan sebuah petarungan untuk mempertahankan kekuasaan,” katanya.

Menurut Ramzi untuk melahirkan Pilkada yang demokratis, pemuda harus benar-benar memilih sesuai dengan selera masing-masing. “Jangan sampai pemuda menjadi “pelacur” politik saat proses Pilkada,” katanya.

Akademisi Ilmu Politik Unsyiah, Radhi Darmansyah, yang juga menjadi pembicara di diskusi ini lebih melihat bagaimana pentingnya peran pemuda dalam menjaga Pilkada damai. “Di tangan pemuda lah akan menentukan bagaimana proses Pilkada damai berjalan dengan lancar,” ujar Radhi.

Dia juga menyorot bagaimana peran media dalam mempublikasi informasi menjelang Pilkada. Radhi mengajak pemuda agar pintar dalam menerima setiap informasi yang ada.

“Media memiliki peran serta dalam memainkan isu-isu yang bersifat hoax, tanpa ada landasan kebenaran, baik menjelang pilkada bahkan sampai hasil perhitungan suara, dan disitulah pemuda harus pintar dalam menerima berbagai informasi tersebut,” katanya.

Sementara Sejarawan Aceh, Irwan Adaby, MA, yang juga diundang sebagai pembicara dalam diskusi ini lebih melihat bagaimana kepeminpinan pemuda di Aceh dari segi landasan konseptual dan historis.

Irwan mengatakan sikap idealisme yang dimiliki oleh pemuda bisa saja akan berubah disaat umur menanjak dewasa. Namun tidak menutup kemungkinan sikap idealis tersebut masih bisa dipertahankan sampai tua. 

“Hal tersebut tergantung dari konsistensi pemuda itu sendiri,” katanya.

Irwan kemudian mencontohkan beberapa tokoh pemuda yang aktif di masanya kemudian menjadi Gubernur Aceh seperti T Nyak Arif dan Ibrahim Hasan sampai Zaini Abdullah.

“Mereka semua merupakan tokoh pemuda yang aktif di masa mudanya,” ujarnya.

Sama halnya dengan Radhi, sejarawan Aceh ini membenarkan bahwa pemuda berperan penting dalam menjaga Pilkada damai. “Dalam hal ini, pemuda menjadi aktor keterlibatannya dalam mengelola isu-isu negatif dan positif dalam masyarakat,” katanya.

Dalam siaran persnya kepada portalsatu.com, Direktur Lembaga eLingSa, Dedy Saputra, menyebutkan diskusi ini bertujuan untuk menganalisa peran pemuda Aceh pada pelaksanaan Pilkada 2017 mendatang. Diskusi ini juga digelar untuk mengetahui bagaimana langkah kebijakan yang bisa dilakukan pemuda untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan Pilkada, serta kebijakan apa yang dapat dilakukan pemuda untuk meminimalisir potensi konflik dan intimidasi yang mungkin terjadi. 

“Dari tujuan tersebut, hasil dari diskusi yang berlangsung tadi, peserta yang hadir merespon dengan antusias terhadap pemaparan materi yang disampaikan oleh para panelis,” katanya.[]

root
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar