PERANG yang tidak bisa dimenangkan, sejak serangan kafir Belanda pada 26 Maret 1873, telah menggerus kebudayaan dan peradaban di Aceh sehingga hanya menyisakan puing-puing yang kabur. Ada beberapa orang berusaha keras mengelap debu-debu di permukaannya sekarang, dan satu dua mulai terlihat.
Lalu apa sikap politisi dan pemerintah terhadapnya?
Persis seperti kambing memperlakukan kain sutera, mengais dan menginjaknya, karena kain tidak diperlukan oleh kambing yang memakan rumput dan dedaunan.
Kain sutera tidak bisa dimakan oleh kambing, dan binatang mmbheek itu pun tidak memakai selimut atau baju. Tapi ini bukan artinya saya mengumpamakan politisi dan pemerintah seperti kambing, bukan. Itu hanya metafora.
Oleh karena itu, para pegiat atau aktivis kebudayaan, kusarankan untuk mempelajari politik, dan beberapa di antara kita masuk ke dunia politik, setelah memiliki persiapan. Tanpa memahami dan tanpa masuk ke dalam dunia politik, maka semua warisan budaya, baik artefak, manuskrip, atau nilai, dan lainnya, selamanya akan terabaikan, persis diabaikannya kain sutera oleh kambing.
Lalu, apakah kita, tatkala masuk ke dunia politik akan seperti kambing atau seperti harimau, atau seperti gajah? Jadilah seperti gajah, yang disiplin, santun, dan melindungi, walaupun ia tahu dirinya paling kuat dan paling besar.
Kita sudah lama memibarkan orang-orang yang kurang berkarakter dan kurang ideologi mengurus politik dan pemerintahan.