LHOKSEUMAWE – Kedaulatan energi Indonesia dinilai semakin terancam akibat dari proses penguasaan sumur-sumur minyak masih terus terjadi. Bahkan, Pertamina yang notebene milik pemerintah juga terkesan semakin tidak percaya diri dengan kebijakan yang dinilai sangat merugikan bangsa ini.
Kilang terbaik Pertamina Cilacap sudah dikuasai asing dengan investasi Rp5 triliun, tiga kilang lain dalam proses. Pertamina juga berencana membuat anak perusahaan perkapalan, padahal jelas-jelas membentuk anak perusahaan itu merugikan, ditambah lagi dengan rencana akuisisi Pertamina Geothermal oleh PLN. Semua itu kebijakan yang membuat kita bertanya-tanya, ada apa, ujar Sutrisno dari Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) region Sumbagut kepada portalsatu.com, Minggu, 8 Januari 2017.
Dijelaskan juga, sampai saat ini asing sudah menguasai 85 persen dari sumber energi Indonesia. Sedangkan 15 persen sisanya masih dikuasai pemerintah. Namun sayangnya, dengan banyak kebijakan baru, walaupun masih sebatas rencana semakin membuat kondisi negara ini terjepit.
Coba dibayangkan, Kilang Cilacap, 45 persen sahamnya sudah dikuasai Aramco, asetnya dijadikan jaminan investasi itu, dan bila sudah produksi, pemerintah harus beli BBM dengan harga impor. Apa tidak salah ini? tanya Sutrisno.
Terkait persoalan rencana pembentukan anak perusahaan perkapalan (Shipping) di tubuh Pertamina, Sutrisno mengatakan pihaknya sudah lama menolak kebijakan tersebut. Mereka menilai kebijakan ini tidak efektif dan merugikan Pertamina sendiri. Apalagi beberapa anak perusahaan yang sebelumnya sudah dibentuk akhirnya dijual.
Kita khawatir, bila dibentuk anak perusahaan Shipping, distribusi BBM ke seluruh Indonesia akan sulit diawasi oleh Pertamina, apalagi selama ini kita juga memiliki banyak problem dalam proses distribusi. Kenapa tidak dibentuk saja direktorat perkapalan di dalam manajemen Pertamina, sehingga pengawasan bisa dilakukan sepenuhnya Pertamina, kita sudah buat surat penolakan rencana itu, namun tidak digubris oleh direktur, kata karyawan Pertamina Sumut tersebut.