PERBEDAAN pendapat sebagai keindahan jika direspon dengan positif, numun jangan sampai berakhir pada perpecahan karena nafsu masuk ke dalam hati, sehingga menonjolkan kepentingan pribadi.
Jangan takut, perbedaan pendapat pun telah terjadi sejak zaman para shahabat. Tapi mereka menghadapi perbedaan pendapat itu dengan hati dan jiwa yang bersih sehingga tidak sampai menyebabkan perpecahan di antara mereka.
Pemuda dan pelajar Aceh Timur juga seperti itu jika sama-sama menggunakan ilmu dalam berbicara, konsep yang jelas untuk bertindak dan jangan menghakimi sesuatu tanpa pengetahuan.
Memang kadang-kadang yang terungkap adalah dalil-dalil, baik Alquran maupun sunnah. Persoalannya, dalil bukan menjadi panglimanya, tetapi dalil menjadi pembenar sikapnya yang semu itu.
Sekali lagi tujuan dan tanggung jawab orang berilmu itu berat. Apa bila kesalahan yang sudah bergulir selama satu periode di tubuh organisasi pemuda mahasiswa Aceh Timur kita biarkan begitu saja tanpa resolusi konflik yang jelas.
Persoalan ini sudah bisa kita tutup buku, mari semua tokoh-tokoh mahasiswa Aceh Timur yang sudah pernah berkiprah diluar, sudah saatnya kembali kerumah sendiri dan perbaiki kesilapan penguyuban IPPAT.
Penguyuban kecamatan juga harus melihat persoalan ini secara objektif, simpan dulu kepentingan yang memihak karena sedikit banyak solusi IPPAT sekarang ada di tangan ketua kecamatan.