Tapaktuan – Boat yang ditumpangi seorang nelayan tradisional Aceh Selatan mengalami kehabisan bahan bakar di tengah Lautan Samudera Hindia karena berputar-putar tidak tahu lagi arah pulang menuju daratan sebagai dampak dari kabut asap.
     
Panglima Laot (lembaga adat laut) Lhok Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan, Taslim YS di Tapaktuan, Jumat menyatakan, nelayan tersebut bernama Bujang (42) pada Rabu (7/10) sekitar pukul 04.30 WIB melaut, namun sampai pukul 20.00 WIB belum kembali.
     
Bujang, warga Desa Lhok Keutapang, Kecamatan Tapaktuan melaut menggunakan boat pancing berukuran kecil.
     
Kejadian itu membuat keluarga dan masyarakat setempat kebingungan, dikhawatirkan nelayan tradisional itu hilang sasaran ketika hendak menuju daratan akibat kabut asap menutupi pandangan mata, katanya.
     
“Kejadian itu langsung kami laporkan kepada BPDB, tim SAR dan kepolisian. Sejak Kamis (8/10) pukul 17.00 WIB mereka langsung melakukan proses pencarian dengan menerjunkan enam unit boat pancing bernavigasi namun tidak membuahkan hasil. Beruntung, sekira pukul 21.20 WIB, korban tiba-tiba berhasil menepi kedaratan Desa Lhok Keutapang,” ucapnya.
     
Menurut Taslim, Bujang mengalami gangguan halusinasi (kesurupan), karena ketika hendak pulang ia tidak tahu ke mana arah jalan pulang akibat tertutup kabut asap.
     
Sejak Kamis hingga terbenam matahari korban yang menggunakan boat pancing kecil tanpa difasilitasi perangkat satelit navigasi hanya berputar-putar di laut. Karena mesin bekerja non stop akhirnya kehabisan minyak pada jarak empat mil laut dari daratan.
     
“Anehnya, para pencari tidak kelihatan boat milik korban, sementara korban mengetahui ada sejumlah boat pancing di kawasan keberadaan dia. Waktu itu mesin boat korban tidak bisa difungsikan karena kehabisan minyak. Diantara sadar dan tidak sadar pada pukul 21.20 WIB, korban seperti diantar sebuah boat besar ke tepian Lhok Keutapang,” ungkap Taslim YS mengutip pengakuan korban.
     
Sementara itu Ketua Satgas SAR Aceh Selatan, Mayfendri yang turut melakukan pencarian, membenarkan Bujang salah seorang nelayan tradisional terkendala pulang dari melaut.
     
“Kami menduga, pada saat hendak pulang korban tidak bisa melihat sasaran atau arah daratan. Akibatnya salah arah, tujuan pulang akhirnya malah menuju tempat lain. Karena terus menempuh perjalanan akhirnya korban kehabisan minyak,” ujar Mayfendri.
     
Dia mengatakan, dampak semakin parahnya kabut asap, penglihatan nelayan di tengah lautan terganggu.
     
“Soalnya, selain tidak difasilitasi peralatan lengkap seperti GPS (navigasi), korban juga tidak membawa handpone. Pada saat kehabisan minyak, korban tidak bisa menepi hingga malam. Situasi berubah, cahaya lampu membuat nelayan itu bisa melihat arah pulang dan diduga mendapat pertolongan dari nelayan lain hingga tiba di pendaratan,” demikian Mayfendri. | sumber: antara