TERKINI
KAMPUS

Membahas Kepahlawanan Laksamana Malahayati Melalui Seminar

BANDA ACEH – Pemberian gelar pahlawan nasional sangat penting agar perjuangan para pahlawan menjadi pembelajaran bagi generasi masa depan. Diharapkan nilai kepahlawanan itu senantiasa diteladani…

root Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 1.4K×

BANDA ACEH – Pemberian gelar pahlawan nasional sangat penting agar perjuangan para pahlawan menjadi pembelajaran bagi generasi masa depan. Diharapkan nilai kepahlawanan itu senantiasa diteladani masyarakat.

Demikian disampaikan Wakil Gubernur Aceh, Nova Iriansyah, dalam sambutan singkatnya saat membuka Seminar Laksamana Malahayati sebagai Pahlawan Nasional yang dipusatkan di ruang Potensi Daerah Setda Aceh, Kamis, 3 Agustus 2017.

“Oleh sebab itu, penggalian terhadap kisah perjuangan para pahlawan sudah semestinya dilakukan lebih terstruktur dan sistematis, agar jasa mereka untuk bangsa ini tidak dilupakan oleh generasi mendatang,” kata Wagub.

Wagub berharap seminar ini memberi pencerahan tentang kepahlawanan Laksamana Malahayati dalam mempertahankan kedaulatan negeri, sehingga dapat melahirkan rekomendasi agar ditetapkan sebagai pahlawan nasional.

“Secara khusus, saya menyampaikan apresiasi kepada Kongres Wanita Indonesia dan kehadiran Titin Pamudji, selaku Sekjen Kowani Pusat yang sudah berhadir dan telah menginisiasi dan bersusah payah merealisasikan sebuah gagasan hebat untuk mengusulkan Laksamana Malahayati sebagai Pahlawan Nasional, karena beliau memang layak menyandang gelar Pahlawan Nasional,” kata Nova.

Wagub Aceh juga menginstruksikan seluruh instansi terkait agar menginventarisir dan mengadvokasi sejumlah syuhada Aceh untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Menurutnya masih banyak nama pejuang lain yang belum ditetapkan pemerintah sebagai pahlawan nasional. Padahal dalam sejarah perjalanan bangsa, nama-nama mereka selalu disebut sebagai tokoh nasional.

Saat ini, kata dia, secara nasional Indonesia baru memiliki 168 orang Pahlawan Nasional. Dari jumlah tersebut hanya ada 12 perempuan yang diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Selain itu, hingga saat ini hanya ada tujuh orang dari sekian banyak pejuang kemerdekaan di Aceh yang dianugerahi Pahlawan Nasional. Mereka adalah Tgk Chik di Tiro (1836-1891), Teuku Umar (1854-1899), Sultan Iskandar Muda (1590-1636), Cut Nyak Dhien (1848-1908), Cut Nyak Meutia (1870-1910), Teuku Nyak Arief (1899-1946), dan Teuku Muhammad Hasan (1906-1997).

“Tak terbantahkan lagi, bahwa di Aceh banyak sekali terdapat para mujahid yang berjuang hingga mempertaruhkan nyawa untuk mempertahankan kedaulatan bangsa dari invasi para penjajah. Salah satunya adalah Laksamana Malahayati. Namunbelum semua jejak perjuangan beliau dapat kita gali secara mendalam,” ujar Wagub.

Wagub menegaskan, forum-forum ilmiah untuk menelurusi lebih jauh tentang kisah perjuangan pahlawan yang luar biasa ini harus lebih sering dilakukan. Apalagi seminar akademik adalah salah satu syarat untuk mengajukan seseorang menjadi Pahlawan Nasional.

“Hasil seminar ini bisa melahirkan catatan sejarah tentang kisah Mahalayati dan pasukan inong baleenya. Selanjutnya kita mengusulkan kepada Pemerintah untuk menetapkan Laksamana Malahayati sebagai pahlawan nasional. Mudah-mudahan tahapan itu dapat kita mulai dari seminar ini, sehingga proses pengusulan ini benar-benar didukung kajian ilmiah yang mendalam dan dapat menjadi pertimbangan bagi Pemerintah.”

Sementara itu, untuk menghindari polemik yang akan terjadi di kemudian hari, Nova Iriansyah merekomendasikan untuk menggelar seminar lanjutan terkait visualisasi Laksamana Malahayati.

Dalam kesempatan tersebut, Wagub juga menyerahkan cinderamata berupa lukisan Laksamana Kemalahayati kepada ahli waris Laksamana malahayati, yaitu Tgk Cut Putroe Safiatuddin Cahaya Nur Alam. Wagub juga menerima dokumen terkait laksamana Malahayati dari Sekjen Kowani Pusat.

Empat orang tokoh dan ahli sejarah tampil sebagai narasumber pada seminar tersebut, yaitu Rusdi Sufi, Husaini Ibrahim MA, Misri Husein dan Rusdi Ali Muhammad. Setidaknya ada 3 hal yang harus disepakati dalam seminar ini, yaitu foto (visualisasi), nama dan usia.

Sejumlah literatur membuktikan bagaimana Malahayati tampil sebagai sosok yang menakutkan bagi pasukan Belanda dan Portugis, saat mereka berupaya menancapkan kekuasaannya di Tanah Rencong. Dari silsilah keturunannya, Malahayati masih merupakan keluarga kesultanan Aceh. Dia merupakan cicit dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah pada tahun 1530-1539.

Suami Malahayati juga termasuk seorang pahlawan yang begitu gigih berjuang mengusir Belanda dari tanah Aceh, hingga akhirnya meninggal ditembak musuh bersama ribuan pejuang Aceh lainnya. Kematian para pejuang itu menyebabkan banyaknya wanita Aceh yang menjadi janda.

Malahayati tidak tinggal diam melihat situasi itu. Ia kemudian membentuk pasukan khusus Inong Balee, yang anggotanya sebagian besar terdiri dari para janda. Mereka kemudian mengangkat senjata dan menggelorakan perang gerilya di wilayah laut Aceh. Berkali-kali perang antara pasukan Inong Balee berkobar melawan pasukan penjajah Belanda.

Dari sekian banyak cerita heroik tentang Malahayati, salah satunya adalah cerita pertarungannya melawan komandan Jenderal Cornelis de Houtman, salah satu komandan perang Belanda. Pertarungan itu berakhir dengan tewasnya de Houtman di ujung pedang Malahayati pada pertempuran satu lawan satu di geladak kapal pada 11 September 1599. 

Peristiwa itu sempat membuat geger negara-negara Eropa, khususnya Kerajaan Belanda. 

Perjuangan Malahayati terhenti sekitar tahun 1606. Dia gugur saat bertempur melawan pasukan portugis di perairan Selat Malaka. Ia dimakamkan di lereng Bukit Lamkuta, sebuah desa nelayan yang berjarak 34 kilometer dari Banda Aceh.[]

root
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar