MANUSIA dalam kehidupannya memerlukan rumah untuk berteduh dan berlindung dari hujan, panas, angin. Di samping itu rumah juga sebagai tempat kita menyimpan makanan, harta-harta kita…
MANUSIA dalam kehidupannya memerlukan rumah untuk berteduh dan berlindung dari hujan, panas, angin. Di samping itu rumah juga sebagai tempat kita menyimpan makanan, harta-harta kita dan tentunya rumah itu sangat berarti dalam kehidupan ini.
Lantas masjid yang dikenal dengan rumah Allah SWT, apakah asumsinya juga membutuhkan sesuatu seperti manusia? Jawabannya jelas bahwa Allah sama sekali tidak berhajat dan memerlukan kepada sesuatu seperti layaknya sang manusia.
Penisbatan mesjid kepada rumah Allah tentunya masjid itu tempat yang mulia di dunia baik untuk berubudiayah kepada Allah, maupun sebagai media dalam membahas problema dalam masyarakat.
Salah satu tempat yang dicintai dalam Islam adalah masjid. Namun kita kebanyakan lebih senang duduk dan nongkrong di tempat selain masjid. Padahal tempat yang mulia itu telah dijelaskan oleh baginda Nabi SAW dalam sebuah hadist dari Abu Hurairah -radhiyallahuanhu- Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Bagian negeri yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya, dan bagian negeri yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya. (HR. Muslim, dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi as-Shalah)
Salah satu keutamaannya duduk saja dalam mesjid dengan niat iktikaf sudah termasuk bagian ibadah, dan Allah akan membalasnya dengan pahala yang setimpal bahkan lebih dari itu, dalam sebuah hadist disebutkan: “Barangsiapa berjalan untuk menunaikan hajat saudaranya dan berusaha sungguh-sungguh di dalamnya, maka hal ini lebih utama baginya daripada 10 tahun beri'tikaf. Dan barangsiapa yang beri'tikaf satu hari karena mengharapkan ridha Allah, maka Allah SWT akan menjauhkan antara dia dengan neraka sejauh tiga parit, yang jarak antara satu paritnya lebih jauh daripada langit dan bumi.” (Hr.Thabrani, Baihaqi dan Hakim – at Targhib).
Di samping itu pahala dalam membangun masjid juga sangat besar pahala dan kemulian yang Allah limpahkan kepada hamba tersebut terlebih dengan penuh keikhlasan karena Allah. Hal ini sebagaiman dalam hadist keutamaan membangun masjid ikhlas karena Allah yang diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya : “Dari Utsman bin Affan -radhiyallahuanhu- dia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Barangsiapa yang membangun masjid ikhlas karena Allah maka Allah akan membangunkan baginya yang serupa dengannya di surga. (HR. Muslim).
Dalam kitab Taurat juga diungkapkan bahwa mesjid adalah rumah Allah. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi SAW yang berbunyi:
“Dalam Taurat disebutkan: rumah-Ku di muka bumi adalah masjid-masjid.”
Argumen di atas diperkuat juga perkataan Imam Shadiq, beliau berkata :
“Masjid adalah rumah Allah di muka bumi.”
Kata mesjid bermakna tempat manusia untuk bersujud dan menyembah Allah. Mesjid adalah tempat untuk salat, berdoa, dan berbicara dengan Allah. Jadi, sebaiknya jika kita ingin berbicara dengan Allah, menyampaikan keluh kesah dan permintaan lainnya sebaiknya di mesjid. Bukan berarti di tempat lain tidak baik, namun ada nilai plusnya.
Sudah sepatutnya di sisa umur kita ini kita pergunakan untuk memakmurkan mesjid dengan berbagai macam ibadah. Juga mengajak keluarga dan siapa pun yang bisa kita rangkul untuk memakmurkan mesjid. Kita mulai dari pribadi dan keluarga kita masing-masing dalam berubudiyah kepada Allah SWT termasuk dalam memakmurkan mesjid.
Semoga Allah meridhai kita di setiap waktu terlebih dalam memuliakan rumah-Nya. Mesjid merupakan tempat yang disukai Allah, dan Dia juga menyukai orang-orang yang beribadah di dalamnya. Semoga.[]