JAKARTA – Kira-kira 17 kilometer dari hutan beton Ibu Kota, terbentang berhektar-hektar lahan persawahan. Jauh dari identitas metropolis, pemandangan petani-petani menanam bibit atau memanen di sawah terlihat jelas di Kelurahan Jatinegara, Jakarta Timur.
Tentu saja pemandangannya tidak seperti di desa dengan petani yang sedang menuai padi-padi yang menguning. Petani yang terlihat bekerja di hamparan sawah Jakarta adalah para peladang sayuran.
Kangkung, bayam, dan kemangi tumbuh subur di petakan-petakan sawah di tengah-tengah kawasan Industri Pulo Gadung.
Di antara impitan permukiman padat penduduk, pabrik-pabrik, hingga proyek bangunan apartemen, Waryan, 64, jadi salah satu petani sayuran yang memanfaatkan lahan kosong di Jakarta.
Dia bercerita, sudah sejak tahun 1999 menyewa lahan kosong di belakang Perkampungan Industri Kecil (PIK). Kala itu, dia membayar sewa untuk menggarap lahan kepada kepala lingkungan setempat. Sejak 18 tahun lalu itu Waryan hidup sebagai petani sayur di belantara Jakarta.
Ada 1,5 hektare yang saya tanam kangkung, bayam, dan kemangi, kata Waryan.
Meski punya hak untuk mengolah lahan seluas itu, dia mengaku, hanya bekerja dengan dua keluarganya yang lain.
Setiap harinya, Waryan bekerja mulai dari jam 08.00 pagi hingga 16.00 sore. Namun tak jarang juga dia mulai menanam bibit sayuran pada pukul 01.00 malam. Meski bekerja sejak dini hari, baginya hasil penjualan kangkung atau bayam hanya untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.