DUNIA tarbiyah merupakan kunci utama dalam penyebaran dinul Islam didunai ini. Seseorang yang mencari dan menuntut ilmu merupakan sebuah perkara yang di wajibkan. Kemajuan dan…
DUNIA tarbiyah merupakan kunci utama dalam penyebaran dinul Islam didunai ini. Seseorang yang mencari dan menuntut ilmu merupakan sebuah perkara yang di wajibkan. Kemajuan dan pengembangan syariat juga dengan adanya Talimul ilmi (menuntut ilmu).
Salah satu persoalan yang sangat sakral dan penting yang harus di perhatikan oleh seorang thalib (pelajar) pertama kali nya sebelum melangkah untuk menuntut ilmu hendaknya berusaha selalu mengikhlaskan niat. Keberadaan niat merupakan gambaran dan langkah awal dalam memulai semua pekerjaan termasuk menuntut ilmu.
Fenomena semacam ini sebagaimana dijelaskan dalam hadist Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana dia hijrah. (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)
Berdasarkan perkataan Rasulullah diatas sangat kontras disebutkan bahwa niat itu faktor penentu sebuah amalan dan bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Ilmu yang kita pelajari merupakan sebagai ibadah, amalan yang mulia, maka di sini tentunya butuh niat yang ikhlas dalam menekuni dan menjalaninya.
Kita dalam menjalani dan mengamalkan syariat Islam tentunya harus dilandasi dengan pondasi utamanya dengan nama keikhlasan. Permata tersebut itu sangat penting sebagaimana di sebutkan dalam Al-Quran, berbunyi:.. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus
(QS. al-Bayyinah [98]: 5).
Mempertegas ungkapan di atas bahkan Rasulullah SAW mencela mereka yang menuntut ilmu hanya demi kebanggaan untuk memamerkan kepandaian dan membantah orang awam (bodoh) bukan demi sebuah keikhlasan dalam menegakkan dan mensyiarkan dinul islam. Ini di ungkapkan oleh baginda nabi dalam sabda-Nya:Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk membantah orang bodoh, atau berbangga di hadapan ulama atau mencari perhatian manusia, maka dia masuk neraka. (HR. Ibnu Majah 253)
Bahkan para pendahulu kitapun mengakui keberkahan ilmu itu dengan tanpa keikhlasan akan lari dan hilang serta tidak akan singgah kepada thalibul ilmi (penuntut ilmu). Ungkapan ini sebagaimana di katakan oleh Imam ad-Daruqutni: Dahulu kami menuntut ilmu untuk selain Allah, akan tetapi ilmu itu enggan kecuali untuk Allah. (Tadzkiratus Sami hal. 47).
Penjelasan ini di dukung pula oleh perkataan Imam Syaukani, beliau menyebutkan kewajiban perdana terhadap seorang penuntut ilmu (thalibul ilmi) dengan meluruskan niatnya. Hendaklah yang tergambar dari perkara yang dia kehendaki adalah syariat Allah, yang dengannya diturunkan para Rasul dan al-Kitab. Begitu juga penuntut ilmu membersihkan dirinya terhadap tujuan duniawi atau karena ingin mencapai kemuliaan, kepemimpinan dan Iain-lain. Ilmu ini mulia, tidak menerima selainnya.(kitab Adabut Thalab wa Muntaha al-Arab: 21).[]