TERKINI
TAK BERKATEGORI

M Jhony, Mulai Dari Angkat Senjata Hingga Jubir KPA/PA Pase

LHOKSUKON - Dia lahir dan dibesarkan dari keluarga sederhana. Konflik yang melanda Aceh membuat dirinya hanya menikmati pendidikan sampai tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di…

NATIONAL GEOGRAPHIC Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 5K×

LHOKSUKON – Dia lahir dan dibesarkan dari keluarga sederhana. Konflik yang melanda Aceh membuat dirinya hanya menikmati pendidikan sampai tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di usia 15 tahun, ia bergabung dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM) untuk melanjutkan perjuangan abangnya yang tewas tertembak kala konflik.

Namanya Muhammad Jhony atau M. Jhony. Pria kelahiran 29 tahun silam itu berasal dari Gampong Matang Serdang, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara. Setelah melewati lika-liku perjuangan dan turut mengangkat senjata semasa konflik, kini ia dipercaya sebagai Juru Bicara Komite Peralihan Aceh dan Partai Aceh (KPA/PA) Wilayah Samudra Pase.

“Awal tahun 2001, abang saya, Faisal alias Teungku Timu meninggal dunia dalam perjuangan bersama GAM. Tepat setelah tujuh hari kepergiannya, saya putuskan untuk melanjutkan perjuangan itu. Bersama dengan itu, pendidikan formal saya pun terhenti di tingkat SMP. Pascadamai tahun 2008 lalu, barulah saya mengantongi ijazah paket C setara SMA,” kisah Jhony kepada portalsatu.com, Jumat 9 September 2016.

Tahun 2002, lanjut Jhony, ia diangkat sebagai pengawal Panglima Muda GAM Daerah IV (D-IV) Wilayah Samudera Pase. Berlanjut 2003 hingga 2011, ia dipercaya sebagai keuangan Sagoe Raja Sabi. Tahun 2010, ia dipilih sebagai Wakil Panglima Operasi KPA D-IV. Sejak beberapa bulan lalu, ia menjabat sebagai Panglima Muda KPA D-IV. Belum lama ini, ia juga diangkat menjadi Jubir KPA/PA Wilayah Samudera Pase.

“Saya sudah menikah dengan Elia Safitri dan telah dikaruniai seorang putra. Ayah saya, Husein meninggal dunia tertembak di masa konflik. Sedangkan ibu saya Ti Hasanah, alhamdulillah masih diberi umur panjang oleh Allah,” ujar anak keempat dari enam bersaudara ini.

Jhony menjelaskan, ia dan rekan-rekan seperjuangan lainnya telah merasakan pahit manisnya perjuangan mengangkat senjata di hutan belantara. Itu semua kemudian berakhir setelah terjadinya perjanjian damai (MoU Helsinki) antara Pemerintah RI dan GAM tahun 2005 silam.

“Banyak hal yang tidak dapat dilupakan dalam perjuangan. Itu adalah masa-masa sulit, tidur di dalam rawa-rawa, berdiam diri di hutan, bahkan harus menahan lapar hingga berminggu-minggu. Saya juga sempat terkena tembakan di samping telinga bagian kanan dan betis kanan. Itu terjadi di tahun 2003 dan 2004 dalam baku tembak di Buket Dara Baroe, Kecamatan Baktiya,” kenang Jhony.

Jhony berharap perdamaian Aceh abadi. Kata dia, perdamaian ini haruslah membuahkan hasil nyata untuk rakyat Aceh. Demikian juga dengan butir-butir MoU Helsinki yang telah disepakati bersama, ia berharap direalisasikan seutuhnya bagi  Aceh, sehingga apa yang telah dikorbankan para pejuang semasa konflik tidaklah sia-sia.

“Semua yang kami korbankan semasa konflik demi kesejahteraan masyarakat Aceh. Kami dari kalangan ekskombatan GAM tidak pernah mengkhayalkan jabatan tinggi di pemerintahan. Jika pun sekarang ekskombatan menjabat di pemerintahan, hal itu semata-mata untuk kepentingan rakyat Aceh,” ucapnya.

Saat ditanyakan apa hobinya, Jhony menjawab, “Tidak ada hobi khusus yang saya gemari, selama itu menyenangkan saya akan jalani. Saya juga suka bermain bola, tapi hanya di kala senggang dan untuk suka-suka saja.”[]

NATIONAL GEOGRAPHIC
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar