SIGLI - Sejumlah petani garam tradisional di Gampong Peukan Sot dan Cibrek, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie mengalami kerugian akibat lahan lancang (dapur) garam mereka terendam…
SIGLI – Sejumlah petani garam tradisional di Gampong Peukan Sot dan Cibrek, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie mengalami kerugian akibat lahan lancang (dapur) garam mereka terendam banjir setelah hujan deras mengguyur kawasan itu sepekan terakhir.
Teremdamnya lahan tempat memproduksi garam itu sering terjadi ketika musim hujan lantaran tidak tersedianya saluran pembuang air.
Pantauan portalsatu.com, sejak Minggu, 5 November 2017, belasan hektare lahan milik petani garam terendam banjir. Kondisi itu membuat petani garam tidak dapat bekerja, baik memasak maupun menjemur garam.
Jika ada saluran pembuang untuk menyedot air hujan, kami yakin lahan kami tidak terendam seperti ini, kata Syamsuddin, petani garam di gampong itu, Senin, 6 November 2017.
Syamsuddin mengaku pihaknya sudah beberapa kali melaporkan kepada pemerintah agar dibangun saluran pembuang air sehingga petani garam dapat terus beraktivitas meski musim hujan. Namun, keluhan pihaknya belum didengar oleh pemerintah.
Padahal, untuk mengasapi dapur keluarga selama ini, kami sangat bergantung pada produksi garam. Akibat terendam, ya kami mengangur, paling membersihkan tungku dan menyimpan kayu bakar agar tidak ikut terendam, katanya.
Dia menjelaskan, biasanya mereka dapat memproduksi 120 kilogram garam/hari dengan harga Rp5.000/kilogram dan total penghasilan kotor Rp600 ribu. Setelah dikurangi modal dan upah kerja karyawan, sisanya cukup untuk kebutuhan keluarga kami, ujar Syamsuddin.
Syamsuddin bersama petani garam lainnya berharap kepedulian pemerintah untuk membangun saluran pembuang air, sehingga mereka tidak lagi merugi.[]