TAPAKTUAN – Beberapa msyarakat yang hendak berkantor di kota Bakongan, harus menunggu banjir surut untuk dapat melewati genangan air yang menutupi badan jalan sampai 1 meter lebih, Rabu, 5 April 2017.
Akhi Safar, warga Gampong Alue Dua Mas yang diwawancarai portalsatu.com, mengatakan, banjir di Beutong Kecamatan Kota Bahagia Kabupaten Aceh Selatan menjadi langganan pada musim hujan.
“Banjir dimulai pada malamnya, sekitar menjelang subuh baru terjadi banjir. Namun, banjir ini tidak masalah bagi warga setempat untuk beraktifitas, meskipun banjir mereka tetap menunggu di pinggir jalan sampai banjirnya reda,” katanya.
Menurutnya banjir seperti ini belum parah, bahkan ada yang lebih parah sampai rumah-rumah ikut hanyut diterjang banjir, dan itu biasanya terjadi saat mendekati bulan Desember, sering mengalami banjir parah.
Ia memperkirakan, banjir tersebut diakibatkan ilegal loging yang sangat parah di atas gunung, pelaku rata-rata dari warga sekitar.
“Karena kondisi masyarakat di kampung rata-rata pengangguran, dan pekerjaan yang ada di depan mata mudah di dapat yaitu dengan masuk hutan menebang kayu, sehingga mereka mencari penghasilan alternatif untuk sehari-hari dengan bakerja di dalam hutan sambil menunggu panen di sawah,” katanya.
Ia mengatakan, banjir seperti ini juga berimbas pada hasil tani seperti padi, banjir juga membuat padi tidak terlalu bagus hasilnya. Umumnya masyarakat di sini berpenghasilan pertanian, sambil menunggu saat panen mereka mencari penghasilan alternatif, apakah dengan mencari kayu atau mencari ikan.
Menurut Safar, pemuda di wilayahnya pada umumnya menjadikan ilegal logging sebagai penghasilan utama, karena kilang kayu besar (sawmil) di kawasan Bakongan dan Trumon terus aktif.
“Kilang tersebut izinnya untuk Kecamatan Trumon, tapi dioperasikan di wilayah Bakongan,” katanya.
Ia menambahkan, dalam aktivitas logging bukan hanya masyarakat biasa yang terlibat, bahkan petugas juga terlibat. Hasil dari kilang diangkut menggunakan angkutan darat atau kapal laut untuk dibawa keluar dari Aceh.
Kasnida, 20 Tahun mahasiswa Tarbiyah Biologi UIN Arraniry Banda Aceh berasal dari Jambo Kupok yang sedang melakukan KKN sekaligus PPL di Bukit Gadeng, mengatakan, telah lama menunggu air surut.