BANDA ACEH - Emas Walaupun terkubur di bawah tumpukan sampah dan tinja tetap akan berkilau. Demikianlah sepintas kita melihat kondisi Situs Gampong Pande hari ini. Di…
BANDA ACEH – Emas Walaupun terkubur di bawah tumpukan sampah dan tinja tetap akan berkilau. Demikianlah sepintas kita melihat kondisi Situs Gampong Pande hari ini. Di mana reaksi masyarakat, para ulama, para penggiat sejarah, akademisi hingga politisi ikut angkat bicara terkait pembiaran lokasi situs bekas istana Datul Makmur ini sebagai lokasi pembuangan sampah dan Proyek Instalasi Pembuangan Air Limbah (IPAL) Kota Banda Aceh.
Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat masih peduli dan tidak acuh terhadap Situs Warisan indatu Kesultanan Aceh Darussalam yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayatsyah (1514-1530).
Sebagaimana beberapa tahun yang lalu dihebohkan dengan penemuan koin emas dan sepasang pedang yang diperkirakan berusia ratusan tahun sejak era kesultanan Aceh masih tegak, maka apa yang dilakukan pada hari ini oleh pemerintah Aceh yang didanai dari APBN dan ada sebagian sekitar 2,3 M dari APBK dengan total 107 M sejak 2015, 2016 hingga 2017 seakan tidak membaca tanda-tanda dari temuan ratusan koin emas beberapa waktu yang lalu.
“Seharusnya pada pasca penemuan koin emas tersebut harusnya pemerintah harus segera melakukan penelitian dan kajian lebih lanjut dan serius ada apa sebenarnya di Kp. pande, Kp Jawa, Peulanggahan dan Keudah tersebut,” ujar Pang Ulee Komandan Al Asyi, Tuanku Warul Waliddin.
Sebagaimana disebutkan Tuanku Warul Waliddin yang juga cicit Sultan Aceh terakhir ini, bahwa di dalam Buku Sejarah Aceh Seperti “Aceh Sepanjang Abad” karya Muhammad Said dan “Susunan Pemerintahan Aceh semasa Kesultanan” karya Van Langen telah disebutkan ada 5 wilayah yang dipimpin langsung oleh Sultan sejak awal Kesultanan hingga berakhir pada Perang Aceh-Belanda 1873, yaitu Kp.Pande, Kp.Jawa, Peulanggahan, Keudah dan Merduati, yang kesemuanya itu saat ini berada dalam kecamatan KutaRaja, Banda Aceh.
“Artinya siapapun Wali Kkota Banda Aceh yang memimpin Banda Aceh wajib menjaga dan melestarikan kawasan ini, karena lokasi ini sangat tinggi nilai sejarah dan spiritualnya bagi yang paham sejarah Aceh. Tidak boleh dirusak apalagi dijadikan tempat kotor yang jauh dari kesucian.
Dahulu, kata Warul, para sultan juga merupakan seorang 'Alim Ulama yang selalu menjaga kesucian dari kotoran dan najis, namun hari ini kita biarkan makam-makam beliau terkotori dengan kotoran dan Najis.
“Kami dari Komandan Al Asyi menegaskan akan terus menuntut dihentikankannya proyek IPAL dan pembuangan sampah dilokasi ini hingga kapanpun apabila para petinggi negeri ini tidak mengambil keputusan penghentian pembuangan limbah di lokasi ini,” tegas Tuanku Warul dan Tuanku Muhammad.[]