TERKINI
EVENT

Kisah Gampong Pulo Kawa (Kopi)

PERNAHKAH mendengar Gampong Pulo Kawa? Kopi dalam bahasa Aceh adalah "kawa" yang berasal dari kosakata Arab, 'kahwah', yang dalam ejaan Turki 'kiva' (baca: kiwa). Sejarah…

LIPUTAN6 Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 1.6K×

PERNAHKAH mendengar Gampong Pulo Kawa? Kopi dalam bahasa Aceh adalah “kawa” yang berasal dari kosakata Arab, 'kahwah', yang dalam ejaan Turki 'kiva' (baca: kiwa).

Sejarah kopi di Aceh pertama sekali di Lamno, ditanam oleh orang-orang Turki. Makanya di Aceh Jaya ada Kampung Pulo Kawa.

Dalam sejarah Aceh turun termurun ada istilah Turki pijuet yang menanam lada dan kopi di seputaran Lhoong dan Lamno, Meulaboh.

Di Belahan utara Aceh, mereka menanam kopi di Seulimum, dan Tangse. Oleh karena itu, di Tangse, ada juga Gampong Pulo kawa. Semua cerita itu berkaitan dengan sejarah kisah Lada Sicupak.

Dalam masa itu pula, orang-orang Turki turut menanam lada, komoditis kebutuhan penduduk dunia dan hanya ditanam di Aceh, saat itu.

Penulusuran sejarah, geografis, sosiologi, dan antropologi, mengarah pada kesimpulan, bahwasanya kopi telah ada di Aceh pada abad ke XVI, paaa masa Kesultanan Aceh Darussalam menjalin hubungan dengan Kesultanan Turki Usmani (Ottoman).

Sebagaimana diketahui umum, Ottoman adalah yang menyebarkan kopi ke seluruh dunia, diambil dari Afrika, dibawa ke Timur Tengah, Eropa, dan Asia jauh.

Itu adalah masa jauh sebelum Belanda memerangi Aceh. Oleh karena itulah, Teuku Umar minum kopi sebelum syahid. Kopi yang telah membudaya di sana.

Maka kopi itu sudah masuk ke Aceh dibawa oleh kafilah-kafilah Turki dari Ethopia, diolah oleh Turki pertama di dunia. Lalu Inggris menyuruh orang India mencuri bibit kopi dari Turki dan dikembangkan di India oleh Inggris.

Nama kawa untuk kopi di Aceh bertahan ratusan tahun, baru berubah pada masa Belanda datang, kawa berganti menjadi kupi yang dari bahasa Melayu kopi.

Terakhir, Belanda masuk dan mengembangkan lagi kopi di Tanoh Linge. Menurut keterangan Teungku Nu Keudee Aceh, Lhokseumawe, di Nisam Antara dan Sawang, banyak ditemukan pohon kopi yang sudah tua sekali.

Pohonnya sudah besar-besar, tapi kopi robusta. Makanya budaya kedai kopi di pesisir Aceh mirip di Turki kedai kopi dekat masjid.

Seorang penduduk Aceh Utara, Syarkawi, mengatakan, kopi di Aceh Tengah baru masuk setelah selesai jalan Bireuen-Takengon.

“Kopi Indonesia dari Ethopia yang dibawa oleh Turki ke Aceh, lalu menyebar ke Nusantara. Ratusan tahun setelahnya, ketika Belanda memerangi Aceh, baru kopi mereka monopoli,” katanya.

Ia mengatakan, seorang tua  di Nisam Antara, Teungku Nu, mengisahkan kepadanya tentang kopi di Nisam Antara. Ada pihak yang memindahkan tapa batas untuk mengambil tanah yang bagus untuk kebun kopi di Aceh Utara.

Masalah itu sekarang, telah didamaikan, orang Bener Meriah diizinkan ebrkebun, tapi surat administrasi ke Gampong sekitar Sawang, dan Nisam Antara. Menurut keterangan Syarkawi, penduduk Aceh Utara, kebun yang digunakan untuk menanam kopi tersebut termasuk hutan lindung di Aceh Utara.

Jipike le awak nyan tanyoe han tatueng, karena jikalon meuuteun-uteuen meunan. Para penebang itu dari kabupaten tetangga dibiayai oleh aktor tertentu untuk menguasai tanah Aceh Utara untuk kepentingan perluasan kebun kopi, karena tanah untuk menanam kopi di wilayah mereka sendiri sudah. Termasuk hutan lindung, mereka babat tanpa sisa,” katanya, 4 Juni 2017.

Menurutnya, orang Nisan Antara, sengaja tidak naik untuk berkebun untuk menjaga hutan lindung, tapi ada pihak yang turun, memperluas kebu. Begitu dikunjungi pada suatu ketika, hutan lindung sudah jadi kebun kopi.

“Dataran Tinggi Pase cukup luas, tersebar di 8 kecamatan, 23 mukim yang berbatas langsung dengan Aceh Tengah dan Bener Meriah,” demikian kata Syarkawi, mengutip keterangan orang-orang tua di Nisam, Sawang Aceh Utara, Seulimum, Lamno, dan Kaway Meulaboh.[]

Baca: Kopi Aceh Warisan  Dunia

LIPUTAN6
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar