TERKINI
TAK BERKATEGORI

Kisah Adi Bersama Almarhum Abuya Djamaluddin Waly

BANDA ACEH - Kabar meninggalnya salah satu ulama Aceh, Abuya Djamaluddin Waly mendatangkan duka mendalam bagi Suadi Sulaiman. Apalagi sosok ulama Aceh ini dianggap telah…

root Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 1.8K×

BANDA ACEH – Kabar meninggalnya salah satu ulama Aceh, Abuya Djamaluddin Waly mendatangkan duka mendalam bagi Suadi Sulaiman. Apalagi sosok ulama Aceh ini dianggap telah menjadi guru spiritualnya sejak 2010 lalu. 

Di sisi lain, pria yang akrab dikenal Adi Laweung ini menyebutkan Abuya Djamaluddin Waly merupakan sosok seorang guru yang mampu mengajari ummat untuk kembali kepada titah sebagai manusia di bumi ini, baik melalui pengajian-pengajian maupun zikir. 

“Abuya sangat banyak menghabiskan waktunya untuk mengabdi kepada ummat di seluruh Aceh ini, sehingga Abuya Djamaluddin bisa dikatakan sebagai gurunya ribuan ummat,” kata Adi Laweung kepada portalsatu.com, Sabtu, 23 Juli 2016. 

Menurut Adi, almarhum Abuya Djamaluddin juga mempunyai komunikasi yang baik dengan ulama-ulama Aceh lainnya.

“Saya sudah semenjak 2010 kenal dan berkomunikasi dengan almarhum, baik lewat telpon maupun secara langsung. Sehingga dua tahun belakangan ini komunikasi saya dengan almarhum sangat intens, terutama mengenai dengan persoalan akidah, tauhid dan agama,” kata Adi.

Adi yang saat ini menjabat sebagai Juru Bicara Partai Aceh tersebut mengaku almarhum Abuya Djamaluddin Waly telah banyak mengajarinya tentang tauhid dan ilmu agama lainnya. “Bahkan, sebelas jam sebelum Abuya meninggal, saya masih menelpon Abuya melalui salah satu anaknya, walau antara kami berdua tidak berbicara,” katanya.

Adi menceritakan bagaimana dia pertama kali bertemu dengan Almarhum Abuya Djamaluddin Waly. Saat itu, tepatnya 2010, ia dan teman-temannya dari Laweung mengundang Abuya untuk memimpin zikir di Kecamatan Muara Tiga Laweung, Pidie. Kegiatan ini berlangsung sukses. Ribuan jamaah ikut serta berzikir bersama Abuya.

“Setelah itu saya sering menelpon Abuya menanyakan pendapat-pendapatnya tentang pendangkalan akidah dan upaya kesesatan yang marak terjadi di Aceh. Akhirnya, saya memutuskan untuk belajar khusus tentang tauhid pada Abuya Djamal,” ujarnya.

Pada tahun 2011, lelaki yang pernah menjadi Anggota DPRK Pidie ini kembali mengundang Abuya Djamal ke Laweung untuk memberikan fatwa-fatwa hukum agama, terutama tentang tauhid kepada masyarakat. Menurutnya acara ini juga dihadiri ribuan warga, apalagi lokasinya waktu itu dipilih di kompleks Dayah Jabal Ulum Laweueng.

“Banyak pengalaman saya dengan Abuya Djamal secara khusus, pada akhir tahun 2015 yang lalu, Abuya menelpon saya menjelang magrib dan meminta saya untuk ke rumahnya.”

Adi mengaku saat itu tiba di rumah Abuya di kawasan Kampung Laksana, Banda Aceh, usai Maghrib. Ia datang sendiri. Abuya saat itu mengajak lelaki bertubuh kecil ini keluar berdua. Adi diminta untuk menjadi sopir Abuya.

“Kami keluar untuk menjumpai seseorang untuk membicarakan tentang persoalan Ahlussunnah Wal Jamaah. Pertemuan kami ini hanya bertiga dan berlangsung lebih kurang dua jam setengah. Saat Abuya minta saya langsung sopirnya, hati saya seperti tidak percaya, apalagi malam itu sopir khususnya juga sudah menghidupkan mobil Abuya,” katanya.

Pengalaman lainnya adalah saat lebaran Idul Adha tahun 2015. Adi mengaku bertemu dengan Abuya Djamaluddin Waly di salah satu warung kopi di kawasan Bambi, Pidie.

“Saat itu saya dan keluarga pulang dari Lhokseumawe dan Abuya pulang dari Tangse. Mobil yang Abuya tumpangi menyelip mobil saya, dsn saya langsung meminta Abuya untuk menyinggahi rumah kami di Laweung, karena Abuya harus mengisi pengajian di Tijue Pidie, maka Abuya tidak bisa ke rumah kami dan Abuya memberikan solusi untuk kami bertemu di warung kopi, di situ Abuya mengatakan bahwa “mangat tadjak kelileng Atjeh ta djak seumeubeut dan ta pandu zikir, sehinga watee ta tamong sjuruga meu-djamaah tjit (enak keliling Aceh untuk mengajar dan memandu zikir, sehingga waktu masuk surga berjamaah),” kata Adi.

Di sepanjang komunikasinya dengan Abuya Djamaluddin Waly, Adi ingat betul pesan-pesan yang disampaikan ulama tersohor di Aceh tersebut. Menurut Adi, almarhum kerap mengingatkannya untuk berjuang membela kebenaran dan keadilan, serta mempertahankan agama serta tatacara pelaksanaannya dari rongrongan orang jahil.

“Terutama selalu harus mengantisipasi upaya-upaya penyesatan di Bumi Serambi Mekkah,” katanya.

Abuya juga meminta Adi untuk menjaga ilmu agama dan kepercayaan yang diberikan ummat sebagai sebuah amanah. Almarhum juga pernah meminta Adi untuk menghibahkan diri kepada ummat secara menyeluruh.

“Apalagi di akhir zaman ini. Abuya juga memberikan saya beberapa buku yang pernah dituliskannya, dan buku karangan almarhum Prof. Abuya Muhibuddin Waly,” ujarnya.

Dia mengatakan pembicaraannya terakhir dengan Abuya secara langsung adalah pada 16 Juli 2016 lalu. Saat itu, kata dia, Abuya mengundangnya dan keluarga untuk menghadi Haul Abuya Mudawaly Al-Khalidy pada 19 Juli 2016. Haul itu dilaksanakan di Komplek Dayah Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan.

“Dalam pembicaraan via telepon itu juga kami sepakat untuk menunaikan ibadah umrah bersama pada Desember 2016 mendatang. Apa boleh hendak kita katakan, Abuya terlebih dahulu menghadap Sang Khaliq,” katanya.[](bna)

root
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar