Oleh Al-Zuhri
LAMPION adalah sejenis lampu yang biasanya terbuat dari kertas dengan lilin atau sejenisnya di dalamnya. Ada juga lampion yang lebih rumit, terbuat dari rangka bambu dibalut dengan kertas tebal atau sutera bewarna, dan biasanya bewarna merah. Lampion biasanya tidak dapat bertahan lama dan mudah rusak. Begitulah yang saya lihat, beberapa dari lampion ada yang terbakar sebelum dilepaskan ke udara. Ada juga yang jatuh setelah beberapa saat melayang bebas di udara. Malam ini lampion bak pelita bagi langit Wuhan yang damai, menerangi sudut-sudut angkasa. Ibarat menggantikan bintang malam yang sudah lelah berbagi cahaya.
Saat lampion mulai menyala, api memanaskan udara di dalamnya, sehingga menurunkan kepadatan dan menyebabkan lampion naik ke udara dan diterbangkan oleh angin. Adapun pelepasan lampion di malam ini mereka peruntukkan untuk menyambut pergantian tahun baru masehi. Walaupun sebenarnya negeri para kaisar ini memiliki tahun baru sendiri yaitu imlek. Sama halnya dengan kita yang memiliki tahun hijiriah. Bahkan mereka juga merayakan acara seperti natalan, 11-11 (hari jomblo sedunia), dan beberapa hal lainnya. Namun hanya beberapa orang saja, dan kebanyakan dari yang merayakannya adalah muda-mudi.
Pada kesempatan pelepasan lampion ini, tampak pula orang-orang menuliskan beberapa potong kata berupa doa di kertas lampion tersebut. Dengan harapan, semoga di tahun depan mendatangkan hal yang lebih baik untuk hubungan, pekerjaan, dan pengharapan lainnya. Ada juga yang menulis Ni hao (Halo) 2016, Zai Jian (Sampai Jumpa) 2015. Ada beragam jenis lampion melayang di udara, mulai dari merah, biru, kuning, dan lainnya dengan tak lupa menaruh pengharapan disetiap penerbangannya.
Langit malam berhiaskan lampion terbang memang sudah menjadi pemandangan yang umum terlihat di banyak negara asia saat perayaan malam tahun baru, ataupun perayaan besar lainnya. Lampion terbang malam ini menjadi kertas harapan bagi orang-orang yang melepaskannya ke angkasa. Berharap pengharapannya didengarkan oleh Tuhan, walaupun sebenarnya mayoritas orang Tiongkok tidak percaya akan adanya Tuhan.
Awalnya saya hanya penasaran ingin melihat bagaimana orang-orang Tiongkok melewati tahun baru masehi. Karena kebanyakan dari mereka adalah komunis (tidak bertuhan), dan mereka juga memiliki tahun baru sendiri yaitu imlek. Berawal dari info beberapa sahabat bahwa di beberapa tempat Wuhan ada orang merayakan tahun baru masehi, akhirnya saya langsung menelusuri tempat yang dimaksud dengan menggunakan MRT atau subway. Lokasinya sedikit jauh dari tempat saya tinggal. Butuh melewati sembilan stasiun kurang lebih. Stasiun yang jadi tujuan saya adalah Jiang Han Road. Dan ternyata benar di tempat yang dikabari sahabat saya di sana ada banyak orang.