JAKARTA — Genap 64 tahun usia Komandan Pasukan Khusus (Kopassus) Republik Indonesia. Tidak sedikit operasi yang berhasil mereka lakukan. Pujian untuk korps baret merah mulai berhembus pada 1981, saat Kopassus menyelamatkan sandera pada kasus pembajakan pesawat DC-9 Garuda di Bandara Don Muang, Bangkok.
Usai pembebasan pada kasus Woyla itu, pers dunia pun mensejajarkan keberhasilan baret merah dengan operasi serupa oleh pasukan elit Jerman dan Israel di Entebbe dan Mogadishu.
''Tak ada kata lain, mereka memang profesional,'' komentar Ketua Delegasi Komite Palang Merah Internasional (ICRC) di Jakarta, Henry Fournier, tentang pasukan pembebas sandera dikutip dari pusat data Republika.co.id, Sabtu (16/4).
The Asian Wall Street Journal pada saat itu juga memuji betapa terorganisirnya Kopassus dalam menjalankan operasi. ''Operasi yang membutuhkan perencanaan dan pengorganisasian tingkat tinggi. Juga butuh keberanian, efisiensi, dan disiplin,'' puji tajuk The Asian Wall Street Journal saat itu.
''Bukan mau membanggakan. Kita mempunyai keunggulan dan kita juga punya kelemahan. Tapi ada beberapa hal yang masih kita miliki disegani oleh beberapa pasukan khusus lain,'' kata Komandan Jenderal (Danjen) Kopassus Mayjen TNI Prabowo Subianto pada 21 April 1997.