TERKINI
TEUNGKU MENJAWAB

Kesedihan Janda GAM di Pedalaman Aceh Singkil

AIR mata perempuan tua itu sepertinya tidak bisa dibendung kala mengetahui mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bertandang ke rumahnya. Seluruh tubuhnya gemetaran. Dia terbata-bata. …

root Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 3 menit
SUDAH DIBACA 3.2K×

AIR mata perempuan tua itu sepertinya tidak bisa dibendung kala mengetahui mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bertandang ke rumahnya. Seluruh tubuhnya gemetaran. Dia terbata-bata. 

Namanya Raisah. Dia merupakan penduduk Desa Sangga Beru Silulisan. Gampong yang berada di Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil tersebut masuk dalam kategori daerah pedalaman. Saat konflik mendera Aceh, beberapa pria di sana bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Salah satunya adalah Ismail, suami Raisah yang hingga kini menghilang entah kemana.

Rabu, 18 Januari 2017. Syahrial atau dikenal dengan nama Teungku Di Mata Uroe menjenguk Raisah di rumahnya. Syahrial merupakan mantan kombatan GAM yang pernah bertugas di Wilayah Lhok Tapak Tuan. Artinya, Syahrial merupakan teman seperjuangan Ismail sang suami Raisah.

Pria yang kini menjabat Koordinator Wilayah Wareeh Mualem tersebut mendengar adanya salah satu anggota keluarga GAM di Desa Sangga Beru. Hal inilah yang membuatnya datang menjumpai Raisah.

Raisah yang mengetahui tamu tersebut adalah mantan kombatan GAM langsung menanyakan dimana kuburan suaminya. “Apakah ada yang tahu?”

Pertanyaan itu tentu saja tidak bisa dijawab Syahrial. Pasalnya Ismail merupakan anggota GAM yang tertangkap pada tahun 2000. 

Raisah menceritakan bagaimana saat itu aparat hukum mendatangi rumahnya. Mereka mencari Ismail dan mengancam akan membawa serta salah satu anaknya untuk dijadikan sebagai tukang masak.

“Ni adekmu? Iya. Kau namanya siapa? Sadariah, oh namamu hebat ya? Aku ingat tu, meski tahun 2000 kejadian. Ini nama adekmu siapa? Ida Laila. Wah nama penyanyi ya, kami bawa ini adekmu. Tukang masak kami, untuk makanan kami. Nanti kalau adekmu kami bawa ke markas kami, pak Ismail kan keluar,” kata Sadariah, anak Raisah menceritakan kejadian yang dialaminya saat personel keamanan mencari Ismail ke rumahnya.

Saat itu, keluarga Raisah turut mendapat tindak kekerasan dari aparat hukum. Suami Sadariah bahkan diseret ke pohon kelapa bersama anak bungsu Raisah. Anak lelaki Raisah itu juga diminta pegang senjata, tetapi dia takut dan mengaku tidak pernah melihat benda tersebut. Menurut Sadariah, tindak kekerasan yang dialami keluarganya itu terjadi karena aparat hukum mencari Ismail, suami Raisah.

Dia menyebutkan kejadian tersebut turut membuat suami Sadariah trauma. Psikologisnya terganggu hingga sekarang dan kerap ketakutan kalau melihat orang-orang berseragam.

Di sisi lain, Ismail sendiri tidak diketahui dimana rimbanya. Mereka hanya mendengar kabar bahwa Ismail tertangkap pada tahun 2000. Sampai sekarang, tidak ada yang tahu dimana pusaranya. Pihak keluarga sudah bersusah payah mencari kemana-mana. Namun, hasilnya nihil.

Sepeninggal suaminya, Raisah bersama tujuh orang anaknya menjalani kehidupan yang sangat pahit. Dia kerap menerima hinaan dan cacian dari orang-orang di lingkungannya karena dianggap sebagai keluarga GAM.

“Itu anak GAM itu, sehingga kami tidak pernah pergi kemana-mana. Sekarang yang membuat kami sedih, sampai saat ini tidak ada satu orang pun teman almarhum yang datang menengok kami,” kata Sadariah yang dibenarkan Raisah.

Selain itu, Raisah juga mengaku tidak pernah menerima bantuan apapun dari pemerintah. Namun dia yakin jika Muzakir Manaf yang merupakan Panglima GAM saat konflik bisa menjadi pemimpin di Aceh. Menurut Raisah, Mualem–sapaan akrab Muzakir Manaf–akan peka dan mampu merasakan penderitaan rakyat.

“Karena Mualem juga dari rakyat,” ujarnya kepada Syahrial.[]

root
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar