TERKINI
ENTERTAINMENT

Ke Luar Negeri, Belajar Adab dan Etika

Alkisah pada suatu sore Amirulmukminin Umar bin Khatab, jalan-jalan di sekitar Madinah. Maklum, di masa itu pesawat terbang belum ada. Lagi pula Amerika dan Eropa…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 807×

Alkisah pada suatu sore Amirulmukminin Umar bin Khatab, jalan-jalan di sekitar Madinah. Maklum, di masa itu pesawat terbang belum ada. Lagi pula Amerika dan Eropa masih udik. Masih belum dikenal dalam peradaban. Madinah dan jazirah Arab adalah bumi paling moderen di masa itu. Maka beliau tidak ingin studi banding ke luar negeri.

Umar pun menyusuri lorong-lorong Madinah. Beliau hanya berpakaian seadanya. Sederhana dan islami. Maklum, di masa itu desainer atau mode busana belum ada. Beda dengan anggota dewan kita. Pakaian mereka bermerek luar negara.

Sampailah sang Umar di sudut sebuah lorong. Ada rumah sedikit kumuh di sana. Letaknya kira-kira kurang 1 jam jalan kaki ke rumah Umar. Tentu tidak macet. Maklum, di jalan kendaraan yang berseliweran hanya keledai dan unta. Umar juga tidak pakai forijder dan pengawal. Maklum, beliau politisi rakyat. Beda dengan politisi kita. Pulang kampung pun bawa pengawal, biar beda dengan orang kebanyakan.

Langkah Umar terhenti. Dalam sebuah rumah ada perempuan sesunggukan. Si suami bergumam sambil mengutuk ketidakberdayaannya. Umar mengetuk pintu rumah itu sembari bertanya apa yang terjadi. Si suami dengan sedih bercampur gusar mengatakan istrinya mau melahirkan dan dia tidak punya bekal apapun.

“Khalifah Umar tidak adil, hingga keluarga saya terabaikan”. Begitu dia mengutuk. Umar tercekat dan tertegun. Langsung balik badan melangkah pulang ke rumahnya. Di jalan, Umar menangisi kegagalannya. Memohon ampun.

Singkat cerita, Umar didampingi istrinya malam itu kembali ke rumah warga tadi. Istri Umar masuk ke bilik ibu yang mau melahirkan. Umar bersama suami perempuan itu memasak air dan tepung roti. “Andaikan Umar adalah engkau, sungguh aku tidak pernah mengutuk khalifah dengan caci maki,” gerutu si suami itu sambil membantu menghidupkan api.

Umar diam saja sambil terus mengaduk tepung di atas dapur. “Ya… Amirulmukminin, telah lahir anak laki-laki,” seru istri Umar di sela tangisan bayi. Maka terkejutlah sang suami. Dia telah mencaci Umar yang sedang bersamanya. Umar tidak punya ekspresi, apalagi marah. Walaupun “ka keunong geulawa“.

Sekelumit kisah tadi menunjukkan betapa penting berkunjung atau muhibah alias kunker. Dari sana, para pemimpin mendapat data orisinal atau opini pertama. Kunjungan juga mendekatkan pemimpin dengan rakyat. “Tapak jak urat meunari, le tajak le pue meuri“.

Mungkin inilah yang sedang anggota DPRA lakukan ke luar negeri. Mereka sedang belajar atau cari pengalaman ke sana. Agar bisa memperbaiki mutu kehidupan kita rakyatnya. Amerika atau Eropa memimpin peradaban dunia saat ini. Wajar, pemimpin kita belajar adab ke sana. Walaupun mereka beda akidah dengan kita. Tapi bicara adab, mungkin mereka jauh lebih “islami”.

Politisi di sana hampir tiada cela secara integritas. Bagi mereka, sedikit saja etika yang dilanggar, maka rakyat akan menghakimi tanpa ampun. Dan mereka tahu itu akhir karir politik mereka. Makanya mereka takut melanggar etika. Takut melanggar aturan dan fatsun politik. Politisi kita memang perlu belajar dari mereka. Agar politisi kita bisa memasang muka asli tanpa tembok. Kalau sudah begitu tentu politisi kita akan lebih beretika dan berpihak rakyat.

Kita memilih dan menggaji mereka bukan untuk menggarong hak-hak kita. Mereka kita titipkan nasib kita untuk mereka bela. Bukan untuk mereka permainkan. “Bek lage ta harap pageu, keubeu lam pade“.

Semoga sampai ke Barat, mereka benar-benar belajar pada politisi di sana agar tumbuh kesadaran. Bahwa ternyata dalam berpolitik kaum kafir itu lebih beretika dibanding kita politisi muslim. Sepulang di sana, mereka tidak lagi menjadi calo proyek. Tidak lagi menyalurkan anggaran atas nama aspirasi untuk hal yang tidak bermanfaat. Tidak lagi menjadikan APBA sebagai bancakan. Tidak menjadi pemburu rente dari anggaran atau kebijakan. Berhenti berbohong demi nafsu pelesiran. Berhenti menjadikan nasib rakyat sebagai objek .

Kita mimpikan mereka melakukan pelesiran seperti pelesiran Umar bin Khatab. Untuk langsung menyelesaikan persoalan. Tanpa birokrasi dan tetek bengek yang mengganggu. Mereka bukan “sipo pantee alee, tapoh han saket, ta caret han malee“. Mereka dengan rakyat “sapue kheun sapue pakat, sang si nasap meu adoe aa“. Semoga.[]

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar