BANDA ACEH – Peneliti sejarah Islam Asia Tenggara, Taqiyuddin Muhammad, Lc, belum dapat mengklarifikasi apakah bendera yang diperlihatkan oleh keluarga Teuku Raja Aceh (Raja Ade) di Trumon, Aceh Selatan, kepada Tim Ekspedisi Muhammad Ghaut, bendera asli kerajaan Aceh atau bukan. Namun, dia menduga jika melihat kondisi fisik, bendera tersebut berasal dari masa yang sama dengan periode kerajaan Aceh dan biasanya dipergunakan di terompet.
“Belum ada keterangan yang terpercaya untuk menjelaskan tentang bendera tersebut. Tidak bisa orang langsung mengklaim bahwa itu bendera Trumon, seakan Trumon terpisah dari Kerajaan Aceh, tidak bisa begitu,” ujar Taqiyuddin dalam diskusi nonformal kepada portalsatu.com, yang berlangsung di salah satu warung kopi di pinggiran Kota Banda Aceh, Kamis, 31 Agustus 2017 lalu. Ikut serta dalam diskusi ini Ketua Masyarakat Peduli Sejarah (Mapesa), Mizuar Mahdi.
Taqiyuddin berharap dengan adanya publikasi bendera tua dari masa kerajaan di Trumon tersebut dapat membuka fakta-fakta baru tentang sejarah Aceh yang belum diketahui. Namun ahli epigraf ini berharap tidak ada pihak yang mengklaim bendera tersebut sebagai identitas atau simbol sebuah wilayah tanpa adanya penelitian ilmiah.
“Untuk bendera nyan adalah warisan, maka itu benar. Menurut saya itu benar bendera pusaka, bendera yang diwarisi dari zaman Aceh Darussalam, tetapi untuk apa dan bagaimana bendera itu dipakai di masa tersebut, saya belum dapat memastikan,” katanya.
Menurut Taqiyuddin informasi tentang bendera di Trumon tersebut masih simpang siur. Pasalnya, kata dia, ada informasi yang menyebutkan bendera tersebut hanyut dibawa arus laut dari Turki. Namun, ada juga informasi berbeda dengan bendera tersebut.