TERKINI
GAYA

Kata Guru SD Kuta Binjei Ini Tentang Budaya Merangkai Sirih

Mulia wareh ranup lampuan, mulia rakan mameh suara Mulia jamee ranup meususon, sopan ngon santon meubudi bahasa Mulia guree ramee yang kunjong, mulia gampong reusam…

root Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 1.2K×

Mulia wareh ranup lampuan, mulia rakan mameh suara

Mulia jamee ranup meususon, sopan ngon santon meubudi bahasa

Mulia guree ramee yang kunjong, mulia gampong reusam meuagama

Ranup lam batee puemulia jamee, adat geutanyo keujamee teuka

Neuji pajoh sigapue dilee, ie ranup klat jeut keu peunawa.

 

Pantun di atas tentu tidak asing lagi bagi masyarakat Aceh saat acara pertunangan, pernikahan, menyambut tamu untuk dimuliakan, dan pada acara-cara lainnya. Hal itu dikatakan Asnidar, S.Pd, guru SD Negeri 1 Kuta Binjei, Kecamatan Julok, Aceh Timur, Senin, 21 Desember 2015.

Asnidar menyebut Dinas Pendidikan Aceh Timur melaksanakan Lomba Merangkai Sirih, kemarin. “Saya dan ibu-ibu yang lain terlibat langsung mengikuti perlombaan ini, kegiatan ini setiap tahun dilaksanakan Dinas Pendidikan Aceh Timur,” katanya melalui surat elektronik diterima portalsatu.com.

“Bahkan ibu-ibu dari dharma wanita tahun ini mampu memecahkan rekor merangkai sirih yang hanya membutuhkan waktu dua jam tiga puluh menit saja,” ujar Asnidar lagi.

Asnidar menambahkan, lomba seperti ini sangat bermanfaat untuk menjaga nilai-nilai kearifan lokal. Menang atau tidak, kata dia, bukanlah hal yang utama. “Namun pelajaran yang bisa kita ambil bagaimana Aceh yang terkenal dengan budayanya yang khas sebagai warisan dari pendahulu sebelumnya mampu kita pertahankan untuk masa sekarang dan pada masa yang akan datang, bahkan harus kita ajarkan pada anak-anak gadis di kampung dan siswi-siswi di sekolah”.

Guru yang terampil merangkai sirih ini juga mengatakan, “Sejak usia saya masih gadis, merangkai ranup (sirih) salah satu hobi saya, bahkan sekarang pun saya sering diminta menjadi pembawa acara pada saat serah terima linto dan dara baro”.

Asnidar turut membacakan satu pantunnya: “Neuduek neupiyoh neupajoh ranup, ranup bak pocut neucuba rasa, meuphet ngon meuhong neurasa keudroe, bak ureung nanggroe bek neu calitra.”[](idg)

root
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar