Kasus dugaan pelecehan seksual yang menimpa mantan karyawati Uber melukai kepercayaan sebagian publik di Amerika Serikat. Kampanye menghapus aplikasi Uber kembali jadi pilihan memprotes perusahaan pimpinan Travis Kalanick itu.
Kampanye #DeleteUber berulang dalam kasus yang berawal dari kisah pengalaman mantan karyawati bernama Susan Fowler. Dari ceritanya, Uber dinilai tersimpan budaya seksisme di antara pekerjanya.
Akibat kasus ini, CEO Travis Kalanick segera buka suara. Ia mengaku telah memerintahkan penyelidikan khusus di tubuh internal terutama mereka yang dituding dalam tulisan Fowler.
“Kami berusaha membuat Uber sebagai ruang kerja yang adil dan tak ada tempat untuk perilaku semacam ini di Uber, dan siapa pun yang berlaku serta berpikir itu OK akan dipecat,” ucap Kalanick mengomentari dugaan pelecehan yang terjadi.
Buntut dari kasus Fowler ini juga memaksa Uber menyampaikan 'surat perpisahan khusus' berisi permintaan maaf Uber lewat aplikasinya. Sejumlah pengguna yang hendak menghapus akun Uber mendapati pesan panjang yang berintikan penyesalan mereka atas pelecehan yang menimpa Fowler.
“Kami benar-benar terluka,” bunyi salah satu kalimat di pesan itu.
Juru bicara Uber yang dimintai keterangan oleh CNN mengakui kebenaran pesan itu. Menurut sang juru bicara setidaknya ada 40 orang yang menerima pesan itu. Mereka yang mendapatkan pesan itu adalah yang merujuk kasus Fowler sebagai alasan utama menghapus akun Uber.
Kampanye #DeleteUber ini merupakan yang kedua kalinya setelah yang pertama terjadi saat perintah eksekutif Presiden Donald Trump berlaku di Amerika Serikat. Saat itu banyak imigran yang terjebak di bandara AS.
Sebagai aksi solidaritas, sejumlah warga AS termasuk sopir taksi mogok massal. Uber yang kala itu menurunkan tarif agar menarik penumpang yang terlantar lantas dianggap tidak sensitif dan oportunis. Mereka pun dituding pro dengan kebijakan anti-imigran Trump.