BANDA ACEH - Menanggapi aksi penjarahan tanaman pada area Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan (PENAS KTNA), KAMMI Aceh menyesalkan aksi yang dilakukan segelintir masyarakat tersebut.…
BANDA ACEH – Menanggapi aksi penjarahan tanaman pada area Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan (PENAS KTNA), KAMMI Aceh menyesalkan aksi yang dilakukan segelintir masyarakat tersebut.
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum PW KAMMI Aceh Tuanku Muhammad melalui siaran pers, Kamis, 11 Mei 2017.
“Seharusnya tanaman-tanaman itu tetap dijaga dan bisa dinikmati bersama meskipun PENAS KTNA sudah selesai dilaksanakan,” katanya.
Menurutnya, sangat disayangkan jika tanaman yang sudah dipersiapkan sejak dua bulan lalu yang menghabiskan dana rakyat Aceh hingga miliaran rupiah bisa dirusak dengan mudahnya.
Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan (PENAS KTNA XV) yang diselenggarakan di Aceh sejak 06-11 Mei 2017 sudah selesai dilaksanakan. Even nasional yang diselenggarakan setiap 3 tahun ini akan kembali diselenggarakan di Sumatera Barat pada 2020.
Tuanku Muhammad menambahkan, sejak perhelatan PENAS KTNA berlangsung, banyak masyarakat Aceh yang hadir untuk menyaksikan setiap hasil pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan yang dipamerkan di setiap stan yang ada di depan lapangan Stadion Harapan Bangsa.
Di samping pertunjukan di dalam stan, pengunjung juga bisa menikmati berbagai tanaman unggulan yang ditanam di belakang stadion di bagian kluster hortikultura dan tanaman pangan. Mulai dari tanaman padi, jagung, kedelai, bunga matahari, melon, semangka, pisang, cabai, bayam, kangkung, kurma, jambu, dan aneka tanaman lainnya. Setiap yang hadir pasti merasa takjub dan betah berlama-lama di dalam kebun buatan tersebut.
“Namun ternyata keindahan kluster tersebut tidak bertahan lama. Berdasarkan berita yang tersebar, sejak Rabu sore hingga malam harinya telah terjadi aksi penjarahan oleh sekelompok masyarakat yang merampas setiap hasil tanaman yang ditanam di sana. Meskipun sudah dilarang oleh pihak panitia tetap saja aksi yang tidak terpuji ini dilakukan. Sehingga keindahan kebun buatan PENAS tidak bisa dinikmati layaknya dulu lagi.”
Menurut Tuanku, Aceh sebagai provinsi yang sedang menunjukkan citra sebagai daerah aman, bersyariat, dan berpendidikan seharusnya didukung oleh seluruh masyarakat Aceh dengan tidak melakukan aksi penjarahan yang membuat Aceh malu di hadapan tamu lainnya dari seluruh Indonesia.
“Aksi penjarahan ini tidak saja membuat kerusakan di kebun buatan PENAS KTNA tapi juga membuat kita rakyat Aceh dicap masih primitif oleh tamu dari seluruh Indonesia, apalagi mereka masih ada di Aceh dan belum pulang,” tambah Tuanku.
Jika kebun itu tidak dirusak kata dia, Pemerintah Aceh atau pihak terkait lainnya bisa menjadikan lahan tersebut sebagai kawasan agrowisata yang bernilai ekonomis. Masyarakat bisa menjadikannya sebagai wahana tamasyara seperti Hutan Kota BNI di Tibang.
“Kita mengharapkan agar aksi penjarahan seperti ini tidak ada lagi di Aceh. Mari kita menjaga setiap keindahan dan tidak mengambil sesuatu yang bukan menjadi milik kita,” katanya.[]