TERKINI
TRAVEL

JBMI Harus Kembali Melihat Sejarah Peradaban Islam

BANDA ACEH - Jamiyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) diminta untuk melihat kembali sejarah khususnya sejarah peradaban Islam di Nusantara. Hal itu disampaikan Guru Besar Universitas…

SIRAJUL MUNIR Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 2 menit
SUDAH DIBACA 873×

BANDA ACEH – Jamiyah Batak Muslim Indonesia (JBMI) diminta untuk melihat kembali sejarah khususnya sejarah peradaban Islam di Nusantara. Hal itu disampaikan Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Prof. Dr. Azyumardi Azra, M.A., CBE., selaku pemateri dalam seminar sejarah digelar di Gedung Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Senin, 15 Mei 2017.

“Saya kira klaim itu harus diluruskan. Saya kira kawan-kawan JBMI harus melihat kembali, melihat sejarah,” kata Azyumardi dalam seminar yang bertemakan Mempertegas Sejarah Awal Islam Di Nusantara.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah ini mengatakan, penulisan sejarah itu harus berdasarkan bukti dan bukan dengan sejarah yang dibuat-buat karena itu dapat menyesatkan.

“Sejarah berdasarkan bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan dan diuji. Kalau tidak bisa diuji, tidak bisa dibuktikan malahan itu namanya sejarah yang dibuat-buat,” kata Azyumardi.

“Malahan sejarah yang dibuat-buat bahkan bisa menyesatkan, apalagi dibuat secara resmi atau masuk ke dalam buku-buku teks, itu berarti sejarah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan,” katanya lagi.

Sebelumnya Azyumardi mengatakan, ditandainya peradaban Islam salah satunya dengan adanya kerajaan atau kesultanan. Selain itu, naskah-naskah kuno dari para tokoh intelektual atau ulama yang ada.

“Karena kalau kita bicara peradaban Islam yang bergerak, yang membangun peradaban Islam itu adalah kesultanan. Tidak ada kerajaan di Barus, yang ada itu adalah di Kesultanan Aceh, yang sebelumnya ada Samudra Pasai, Peureulak, dan Lamuri,” kata Azyumardi.

“Di Barus tidak ditemukan bukti-bukti arkeologi, bukti yang lain misalnya naskah, yang menyatakan di Barus itu ada misalnya kesultanan. Menghasilkan karya-karya intelektual Islam yang luar biasa mulai dari Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumaterani, Nurruddin Ar Raniry, semua itu adanya di Kerajaan Aceh,” katanya lagi.[]

SIRAJUL MUNIR
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar