JAKARTA – Angga Yuniar, 30, adalah warga Cileduk, Tangerang, yang bekerja di kawasan Senayan, Jakarta Selatan. Saban pagi dia harus mengarungi 17 kilometer untuk mencapai kantor, dan berjibaku dengan jarak yang sama untuk balik ke rumah di malam harinya.
Angga mengaku tak tergiur untuk menggunakan transportasi umum meski menawarkan kenyamanan. Dia lebih memilih menghabiskan puluhan menit di atas sepeda motornya, dibanding menumpang angkutan umum.
Meski sudah ada TransJakarta, dari rumah saya ke kantor itu harus empat kali naik angkutan. Jadi lebih baik saya kena macet di atas motor satu jam lebih daripada capek-capek harus naik-turun angkutan, kata dia.
Angga bukan satu-satunya. Alasan enggan memilih angkutan umum sebagai transportasi inilah, sebut Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta, Andri Yansah, sebagai kemacetan yang tidak akan pernah hilang dari wajah Ibu Kota. Walau berbagai cara telah dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI untuk mengurai kemacetan.
Terbaru, pemerintah mewacanakan untuk menambah jalur pelarangan sepeda motor. Setelah dilarang melintas di Jalan MH Thamrin hingga Jalan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, sepeda motor kelak tidak dapat lagi melintas di Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan HR Rasuna Said.
Warga malas untuk menggunakan angkutan umum. Padahal, kami sudah berusaha untuk mengoperasikan angkutan-angkutan yang bisa memberikan kenyamanan warga pengguna angkutan, kata Andri kepada Anadolu Agency.

Berebut ruas dengan motor
Deretan sepeda motor yang berjubel berebut ruas jalan dengan mobil menjadi pemandangan yang umum terlihat setiap Senin hingga Jumat di Jakarta. Sebagai pusat bisnis dan perekonomian, Ibu Kota Indonesia setiap paginya disesaki oleh kendaraan-kendaraan yang menuju kawasan perkantoran ataupun industri.
Bukan hanya kendaraan milik warga Jakarta saja, namun ratusan ribu warga yang berasal dari kota-kota satelit seperti Depok dan Bekasi juga menyerbu masuk ke Ibu Kota saban hari. Belum lagi para pekerja yang berangkat dari kota tetangga seperti Tangerang dan Bogor.
Direktorat Lalu Lintas Polda Metro Jaya merilis data yang menunjukkan bahwa penggunaan sepeda motor di Jakarta terus meningkat setiap tahun. Pada 2011, ada nyaris 10 juta motor yang berseliweran di Jakarta. Bandingkan dengan jumlah mobil (2,5 juta) dan bis kota (363 ribu).
Laporan Jabodetabek Urban Transportation Polici Integration (JUPTI, 2010) juga mengindikasikan adanya peningkatan signifikan soal kepemilikan motor. Pada 2002, satu dari tiga rumah di Jakarta memiliki motor. Namun pada 2010, mayoritas keluarga di Jakarta memiliki dua buah motor. Kenaikan ini, sebut laporan JUPTI, mencapai 70 persen.
Jika dibandingkan dengan moda transportasi lain pada 2010, motor menguasai 63 persen jalanan Jakarta. Sementara mobil pribadi sebanyak 17 persen, dan bus kota sebesar 17 persen.
Uniknya, meski mobil pribadi kalah jumlah, namun soal efisiensi ruang di jalan raya, motor justru lebih jaya.
Yoga Adiwinarto dari Institute for Transportation & Development Policy (ITDP) memberikan gambaran. Transportasi umum berbentuk bus, seperti TransJakarta, merupakan moda yang paling efisien soal ruang. Dengan ukuran panjang 12 meter dan lebar 2 meter, sebuah bus TransJakarta bisa mengangkut sekitar 80 orang penumpang.
Besar ruang yang sama, bila digantikan oleh motor, bisa menampung sekitar 10 motor. Kalau tiap motor mengangkut dua penumpang, ada 20 orang yang memakai jalan, sebut dia. Mobil, kata dia, bila diletakkan di besaran ruang yang sama paling-paling hanya muat 2 atau 3. Ruang yang ada menjadi sangat tidak efisien bila setiap mobil hanya memuat 1 atau 2 orang, layaknya pengguna mobil Jakarta kebanyakan.
Motor dianggap sebagai pengganggu di jalan, Yoga menganalisis, karena pengendaranya harus berebut jalan dengan moda transportasi besar, seperti mobil, bus kota, dan metromini. Tidak ada pemisahan yang pasti, bahkan di jalur lambat yang seharusnya dipakai motor, pada kenyataannya tetap ada metromini dan mobil, katanya.
Penggabungan inilah yang menurut Yoga membuat angka kecelakaan sepeda motor tinggi. Muncullah permasalahan safety. Tapi perlu dilihat lagi, tingkat kecelakaan tinggi di sini adalah yang melibatkan motor dengan kendaraan besar. Kalau motor dengan motor angkanya rendah.
Ribuan ojek online
Di tempat lain, kemunculan ojek online sejak lima tahun belakangan menambah banyak lalu lalang sepeda motor di Jakarta.
Tahun 2016, Go-Jek mengaku memiliki armada 200 ribu pengemudi ojek online, separuhnya berada di Jakarta. Grab-bike, penyedia jasa transportasi online asal Malaysia di tahun yang sama memiliki 3 ribu pengendara motor. Jumlah ini masih ditambah dengan pengemudi motor milik Uber.
