Oleh Taufik Sentana*
Walaupun tidak sepenuhnya identik, penulis teringat ke kisah Nabi Yusuf tentang berita sapi kurus yang sempat jadi trend media. Bahkan sampai ada gambar ala ” cocokologi”( karena belum tentu benar) yang menyandingkan sapi kurus itu dengan pejabat setempat yang posturnya tidak kurus.
Sapi termasuk hewan ternak dan disinggung dalam kitab suci Alquran. Karena pentingnya, ada dua surat khusus tentang itu: Al An'am dan Al Baqarah.
Diantara makna termaktubnya sebutan surat di atas adalah sebagai i'tibar atau pelajaran bagi manusia. Binatang ternak sebagai “ketersediaan” yang Allah Berikan untuk manusia. Dengannya manusia memenuhi kebutuhan untuk konsumsi, perhiasan, sebagai ujian dan keperluan lainnya.
Bayangkanlah ! Betapa besarnya nikmat Allah. Sapi sapi itu misalnya, hanya kita suguhkan rumputan dan konsentrat sesuai, tapi yang kita terima kemudian adalah dagingnya, susunya, tulangnya, bahkan sumsumnya atau sekadar nilai jualnya yang tinggi. Maka wajar, memang tidak akan cukup kita bersyukur atas nikmatNya.
Lalu bagaimana dengan sapi kurus di tempat kita? Sementara sapi sapi itu dalam “pemeliharaan” pihak terkait, sedangnya jumlahnya pun tidak sampai jutaan ekor. Mestinya kasus sapi kurus itu tidak pernah terjadi adanya, sedang anggarannya pun ada.
Namun dari segi metafor sosial dan i'tibar untuk kita, apakah sapi sapi kurus itu menunjukkan bagaimana keadaan masyarakat kita secara umum.?. Bahwa keadaan manusia manusianyapun tak kalah “kurus” secara sosial-ekonomi, terlebih pada masa pandemi sekarang.
Yang “gemuk” hanya para elite atau pembesarnya saja.
Simpulan ini kita ambil karena, setiap peristiwa dan gejala di sekitar kita semuanya memberikan makna, bagi yang berfikir dan berakal.
Lalu apa yang dilakukan untuk kasus sap kurus tersebut? Menurut satu sumber, sapi kurus yang sejumlah 50 an ekor itu akan “diberikan ke masyarakat” (kenapa menunggu kurus???) atau lembaga yang relevan mengelola sapi sapi itu. Namun, sementara menunggu mekanismenya, sapi sapi itu dilepaskan di lahan terbuka pemerintah (tidak dikarantina lagi).
Jadi, pandai pandailah mengambil pelajaran dari kisah sapi sapi kurus ini. Walau tidak identik degan kisah sapi kurus dan sapi gemuk pada masa kerajaan Mesir bersama Nabi Yusuf AS.[]
*Praktisi pendidikan Islam
Peminat kajian sosial-budaya.