BANDA ACEH - Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Aceh Timur (IPPAT), Abdul Muthalib, meminta pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Aceh serius dalam mengikuti debat kandidat…
BANDA ACEH – Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Aceh Timur (IPPAT), Abdul Muthalib, meminta pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Aceh serius dalam mengikuti debat kandidat jilid dua yang digelar pada Rabu malam, 11 Januari 2017 di Amel Convention Center Banda Aceh.
Berkaca dari debat kandidat pertama yang digelar 22 Desember 2016 lalu, Abdul Muthalib mengatakan banyak kesan negatif yang muncul dari masyarakat. Pasalnya mereka menilai panggung debat kandidat tak ubahnya seperti panggung komedi.
“Padahal acara debat itu dilaksanakan dengan tujuan seluruh paslon memaparkan visi misinya sebaik mungkin. Kalau debat jilid dua masih seperti itu, maka bisa dikatakan paslon gubernur Aceh tidak ada yang serius dalam memimpin Aceh ke depan. Berarti semua janji-janjinya omong kosong belaka,” kata Abdul Muthalib melalui siaran pers, Senin, 10 Januari 2017.
Hal itu menurutnya sangat disayangkan, pasalnya tidak sedikit uang yang dihabiskan untuk menyukseskan kegiatan itu. Mestinya dana dengan jumlah itu bisa digunakan untuk membantu meringankan korban bencana di beberapa wilayah di Aceh.
Semua paslon gubernur Aceh meminta masyarakat memilih mareka, bahkan ada yang menggunakan nada kasar dalam menyerukannya. Pada kenyataan di lapangan tidak satu paslonpun yang mampu memaparkan visi dan misinya sesuai dengan keinginan masyarakat dan leluhur Aceh.”
Ia menilai, banyak hal yang terlupakan oleh para paslon terutama mengenai adat, budaya dan kerarifan lokal Aceh yang harusnya menjadi program unggulan setiap paslon. Karena, kata dia, Aceh memiliki identitas dan wajib untuk ditingkatkan.
“Hukom Ngon Adat Lagèe Zat Ngon Sifeut, hadih maja warisan indatu kita tersebut, seharusnya kita degungkan karena di dalam slogan tersebut mempunyai banyak makna dan arti penting dalam membangun Aceh. Oleh karenanya kami meminta paslon gubernur Aceh yang menjadi peserta pilkada 2017 memperhatikan adat budaya dan kearifan lokal Aceh, agar tujuan membangun Aceh seperti era kejayaan Sultan Iskandar Muda dengan mudah bisa diwujudkan, ujarnya.
Pilkada 2017 kata Abdul, adalah kesempatan di mana tokoh-tokoh masyarakat Aceh dalam hal ini para paslon gubernur dan wakil gubernur Aceh memperlihatkan kepada masyarakat dunia, bahwa Aceh masih utuh dengan adat dan budaya yang kokoh, serta nilai-nilai kearifan lokal yang memesona.[]