TERKINI
HEALTH

Ini Kata Tgk. Safaini Tentang Zuhud

BANDA ACEH – Pengajar Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kale, Siem, Aceh Besar, Tgk. Safaini, M.A., mengatakan, zuhud merupakan suatu sikap terpuji yang disukai…

BOY NASHRUDDIN Kontributor
DIPUBLIKASIKAN
WAKTU BACA 4 menit
SUDAH DIBACA 893×

BANDA ACEH – Pengajar Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kale, Siem, Aceh Besar, Tgk. Safaini, M.A., mengatakan, zuhud merupakan suatu sikap terpuji yang disukai Allah SWT. Seseorang lebih mengutamakan cinta akhirat dan tidak terlalu mementingkan urusan dunia atau harta kekayaan. Materi dan dunia ini hanya bersifat sementara, dan sarana atau alat untuk mencapai tujuan hakiki, yaitu sebagai bekal kehidupan di akhirat kelak.

Tgk. Safaini menyampaikan itu saat mengisi pengajian rutin Kaukus Wartawan Peduli Syariat Islam (KWPSI) di Rumoh Aceh Kupi Luwak, Jeulingke, Banda Aceh, Rabu, 1 November 2017, malam. Tgk. Safaini menyebutkan, zuhud bukan pula berarti meninggalkan urusan dalam kehidupan dunia, hidup miskin tidak memiliki harta, pangkat dan jabatan, hidup menyendiri dan terasing dari manusia dengan sibuk beribadah saja. Akan tetapi, menjadikan segala yang dimiliki dalam kehidupan dunianya untuk keselamatan akhiratnya.

Hal itu sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah An-Nisa ayat 77 yang artinya, “Katakanlah, kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun”.

“Zuhud ini bentuk kecintaan kepada akhirat. Zuhud terhadap dunia bukan berarti pula mengharamkan segala yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi, zuhud terhadap dunia adalah begitu yakin terhadap apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang saat ini dimiliki di tangan manusia itu sendiri,” ujar Tgk. Safaini.

Alumni Dayah Ashabul Yamin, Bakongan, ini menambahkan, dalam pengertian banyak orang, zuhud adalah meninggalkan hal-hal yang bersifat keduniaan. Mereka tidak mengerti, mana perkara-perkara duniawi yang tercela, yang harus ditinggalkan, dan mana yang boleh didekati untuk kepentingan akhirat. 

Lalu, kata dai Kota Banda Aceh ini, lahirlah anggapan bahwa seseorang tidak akan selamat akhiratnya, kecuali jika meninggalkan dunia seisinya. Kalau perlu menyendiri di suatu tempat terpencil, khusus untuk melakukan ibadah sebagai bentuk ketaatan kepada Allah. Sebagian orang menganggap, inilah zuhud yang hakiki. Persepsi semacam ini muncul lantaran kedangkalan terhadap ilmu agama.

“Orang awam yang jenuh dengan gemerlap dunia, atau muak melihat kepalsuan serta tipu muslihat dunia dan ingin mendapatkan ketenteraman rohani, mungkin akan mudah terperangkap dalam pengertian zuhud tersebut. Asal sedikit berbau dunia, semuanya buruk dan negatif serta harus dijauhi. Akhirnya akan berasumsi bahwa keselamatan akhirat hanya dapat diraih dengan meninggalkan dunia, meningalkan pekerjaan dan bermalas-malasan dengan dalih ibadah”.

“Perilaku zuhud tidak semata-mata tidak mau memiliki harta dan tidak memikirkan urusan duniawi, tetapi zuhud dalam arti yang sebenarnya merupakan kondisi mental seseorang yang tidak terpengaruh oleh harta dan benda dalam mengabdikan diri kepada Allah SWT”. 

“Dengan demikian, betapapun kayanya seseorang mereka tetap hidup dalam keadaan zuhud. Mereka tidak terpengaruh oleh kekayaan tersebut dalam mengabdikan diri kepada Allah, mereka juga menggunakan harta tersebut untuk mendekatkan diri dan beribadah kepada Allah SWT”.

“Zuhud itu adanya dalam hati. Tidak terikat hati dengan dunia, meskipun di tangannya memiliki banyak harta, pangkat dan jabatan. Ia mengeluarkan harta kekayaan dan kecintaan dunia dari dalam hatinya, tapi di sini bukan berarti tidak boleh rapi, penampilan lusuh dan pakaian seadanya, tidak memiliki kendaraan dan rumah mewah,” kata Tgk. Safaini.

“Bahkan Allah SWT tidak menyuruh kita hamba-Nya untuk memikirkan akhirat saja, tetapi dunia juga harus kita raih dengan sebaik-baiknya. Sehingga prinsip keseimbangan dunia dan akhirat tetap terjaga”.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Qashash ayat 77 yang artinya, “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi”.

Tgk. Safaini melanjutkan, “Perilaku zuhud juga akan membawa kehidupan seseorang hamba selalu bersyukur terhadap nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita semua baik sedikit ataupun banyak”.

“Selalu berusaha untuk banyak-banyak membelanjakan harta di jalan Allah SWT. Tidak bermewah-mewahan secara berlebihan. Selalu berusaha untuk berpenampilan sederhana, dan tidak sombong serta membanggakan diri sendiri. Lebih mencintai Allah SWT daripada kehidupan di dunia ini”.

“Kemudian, tidak membelanjakan harta secara boros. Bekerja dan beribadah dengan giat dan sungguh-sungguh untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, serta selalu menggunakan harta dan jabatan yang dimilikinya untuk kepentingan kehidupan di akhirat kelak”.[](rel)

BOY NASHRUDDIN
KONTRIBUTOR · ARGUMENTA.ID

Tulis Komentar