Apabila seseorang terasing atau berada sangat jauh dari keluarganya dalam keadaan naza (kritis atau koma), maka Allah swt., berfirman: Hai malaikat-malaikat-Ku, orang terasing ini adalah…
Apabila seseorang terasing atau berada sangat jauh dari keluarganya dalam keadaan naza (kritis atau koma), maka Allah swt., berfirman: Hai malaikat-malaikat-Ku, orang terasing ini adalah pengembara yang meninggalkan anak-anak, keluarga dan orang tuanya. Ketika dia mati, tidak seorang pun yang menangis dan bersedih atas kematiannya.
Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyerupai ayahnya, ibu dan anak-anak orang itu, sehingga ia membuka matanya dan dapat melihat kedua orang tuanya, anak dan keluarganya, lalu hatinya menjadi tenang. Setelah itu barulah ia menghembuskan nafasnya dalam keadaan tenang dan gembira. Kemudian ketika jenazahnya diusung kepemakaman, para malaikat ikut mengirimnya dan mendoakan di atas kuburannya sampai hari kiamat. Hal yang demikian itu, sesuai dengan firman Allah swt,: Allah maha lembut terhadap hamba-Nya (QS. Asy-Syura:19)
Ibnu Atha berkata: Seorang hamba dapat dilihat kebenaran dan kepura-puraan saat ia dalam kondisi susah dan lapang. Barangsiapa yang bersyukur saat dalam keadaan lapang dan berkeluh kesah dalam keadaan sulit, maka ia termasuk orang yang bohong.
Seandainya ilmu seluruh manusia berkumpul pada seseorang, lalu dia berkeluh kesah atas musibah yang menimpanya, maka ilmu dan amalnya tidak bermanfaat baginya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis qudsi bahwa Allah berfirman: Barangsiapa yang tidak rela dengan qada-Ku dan tidak bersyukur atas pemberian-Ku, maka hendaklah dia mencari Tuhan selain Aku.
Diceritakan dari Wahab bin Manabbih, bahwa ada seorang nabi yang mengabdi kepada Allah selama 40 tahun. Kemudian Allah berfirman kepadanya: Sesungguhnya Aku mengampunimu.
Nabi itu berkata: Wahai Tuhanku, mengapa Engkau harus mengampuni-Ku, sementara aku tidak pernah berbuat dosa sama sekali”.
Maka Allah memerintahkan satu urat tubuhnya berdenyut dan bereaksi yang membuatnya kesakitan dan tidak bisa tidur semalaman. Ketika pagi hari datang, dia mengadukan kepada malaikat perihal sakit yang dideritanya semalaman sebab denyutan satu urat dari tubuhnya itu. Malaikat itu lalu berkata: Ketahuilah bahwa Tuhan berfirman kepada Anda: Sesungguhnya pahala ibadah selama 50 tahun tidak bisa mengimbangi rintihan dan keluhan Anda semalam, hanya karena sakit yang disebabkan oleh satu urat saja dari tubuh Anda”.
Qadhi Iyadh berkata: [Maksudnya Allah merahmatinya dan menggandakan pahalanya sebagaimana firman-Nya, Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya”. (QS al Anaam:160)
Qadhi melanjutkan: [Atau bisa jadi shalawat Allah ini sesuai dengan zhahirnya sebagai bentuk memuliakan (orang yang membaca shalawat) di kalangan para malaikat seperti dalam hadis, Jika ia menyebut-Ku dalam suatu perkumpulan maka Aku menyebutnya di perkumpulan (lain) yang lebih mulia darinya. Hanya Allah yang lebih Mengetahui]
Dari Ubayy bin Kaab ra., ia berkata: Aku berkata: Wahai Rasulullah, sungguh saya memperbanyak bershalawat atas engkau. Lantas berapa dari shalawatku itu yang saya jadikan untuk engkau? Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, Terserah kamu. Aku berkata: Seperempat? Beliau bersabda: Terserah kamu, bila kamu menambahnya maka itu lebih baik. Aku berkata: Separuh? Beliau bersabda: Terserah kamu, bila kamu menambahnya maka itu lebih baik. Aku berkata: Saya menjadikan seluruh shalawat saya untuk engkau. Beliau bersabda:
Jika begitu maka kamu dicukupi keinginanmu dan diampuni dosamu. (HR Turmudzi).
Imam Nawawi berkata: Maksud ungkapan (sungguh saya memperbanyak bershalawat atas engkau, lantas berapa dari shalawatku itu yang saya jadikan untuk engkau?) adalah: Saya memperbanyak berdoa maka berapa banyak saya harus bershalawat atas engkau dalam doa saya?[]
Rujukan: Kitab Mukaasyafatul Qulub, karya Imam Ghazali, (dimulislamnews.com)