MANILA - Istana negara Filipina, Malacanang, dengan tegas melontarkan bantahan terkait laporan yang menyebut jumlah korban tewas akibat perang narkoba mencapai 9.000 orang. Juru Bicara…
MANILA – Istana negara Filipina, Malacanang, dengan tegas melontarkan bantahan terkait laporan yang menyebut jumlah korban tewas akibat perang narkoba mencapai 9.000 orang. Juru Bicara Malacanang, Ernesto Abella, menyebut data sebenarnya menunjukan jumlah yang lebih kecil.
“Di berita jumlah kematian di luar hukum disebutkan sekira 7.000 orang. Bahkan, sekarang disebutkan 9.000 orang terbunuh. Tapi itu adalah berita palsu,” ujar Abella sebagaimana dikutip dari Asia Correspondent, Sabtu (22/4/2017).
Ia menambahkan, berdasarkan data yang dihimpun oleh Kepolisian Nasional Filipina (PNP), menunjukkan bahwa jumlah kematian warga Filipina yakni sebanyak 6.011 orang. Angka tersebut merupakan perhitungan yang dimulai dari 1 Juli 2016 hingga 24 Maret 2017.
Selain itu, dilaporkan hanya 1.398 kasus kematian yang terkait dengan narkoba. Laporan ini digunakan Abella untuk membantah pemberitaan media asing yang menyebut kematian WN Filipina akibat perang narkoba mencapai lebih dari 9.000 orang.
Sebelumnya Reuters mengutip ucapan Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) untuk negara bagian Asia Tenggara, Patrick Murphy, yang mengatakan bahwa data polisi yang dikeluarkan pada April 2017 menunjukkan hampir 9.000 orang tewas. Mereka yang tewas kebanyakan adalah pengguna dan pengedar narkoba.
Sebagaimana diketahui, Presiden Rodrigo Duterte sejak menjabat 10 bulan lalu gencar memerangi narkoba bahkan dengan cara kekerasan sekalipun.[] Sumber: okezone.com