Ibadah sunah bisa menjadi wajib jika diikat diri dengan bernazar atau kaul. Hal ini juga berlaku pada udhiyah (kurban). Nazar adalah sebuah janji kepada Allah SWT yang apabila permintaannya dikabulkan Allah, maka dia akan melakukan salah satu bentuk ibadah sunah yang kemudian menjadi wajib untuk dikerjakan. Seseorang yang bernazar untuk menyembelih hewan udhiyah membuat hukumnya berubah dari sunah menjadi wajib. Baik dengan menyebutkan hewannya yang sudah ditentukan, atau tanpa menyebutkan hewan tertentu.
Dalam masyarakat sering terjadi fenomena berkaitan mengenai ibadah kurban, di mana seseorang peternak terkadang kerap yang sering terjadi saat membawakan kambing untuk dijual atau lainnya, ketika ditanyakan kepada mereka, “apakah itu kambing untuk qurban, si empu kambing menjawab: ya, ini untuk kurban. Walaupun mereka menjawab asal-asalan atau tidak, secara tidak langsung kambing tersebut sudah menjadi udhiyyah wajibah (kurban wajib) dan dilarang untuk dimakan ketika kurban nanti serta tidak dipedulikan maksud mereka menjawab untuk selain kurban wajib.
Peristiwa semacam itu merupakan sebuah kejahilan yang disebabkan tanpa ada ilmu pada diri mereka. Tentu saja tidak menghilangkan dan menggugurkan itu sebagai kurban wajib, hanya saja yang gugur berupa dosa disebabakan kejahilannya, sedangkan dhimmah (tanggungan) sebagai kurban wajib masih tetap. (Imam Ramli, Nihayah Muhtaj: 8: 137, Darul Kutub, Bairut, Syekh Ibnu Hajar Al-Haitami, Tuhfah Al-muhtaj: 9: 412-413, darul Fikr, Syekh Ibrahim Bajuri, Kitab Al-Bajuri: II: 296).