NAIROBI – Setidaknya, dua pendemo tewas di tengah aksi unjuk rasa menuntut reformasi dalam pelaksanaan pemilihan umum yang berlangsung serentak di Kenya, Senin (23/5/2016).
Kedua korban tewas setelah aparat kepolisian melakukan penembakan, pemukulan, dan pelemparan gas air mata di tengah kerumunan demonstran.
Unjuk rasa yang dikabarkan berlangsung serempak itu, menuntut komisi pemilihan umum dibubarkan karena diduga telah melakukan praktik korup dalam penyelenggaraan pemilu.
Dua korban tewas adalah peserta unjuk rasa di Siaya County, di wilayah barat Kenya dekat dengan Danau Victoria.
Informasi ini diungkapkan Bonny Odinga, Direktur Komunikasi Pemerintahan Siaya, seperti dikutip Kantor Berita Associated Press, Selasa (25/5/2016).
Aksi unjuk rasa ini tersebut sebelumnya pun telah berlangsung dalam empat minggu terakhir. Mereka menggelar itu sebelum pelaksanaan pemilu yang akan digelar tahun depan.
Unjuk rasa dilakukan oleh kelompok oposisi Kenya, yang bernama Koalisi untuk Reformasi dan Demokrasi.
Minggu lalu, pegiat hak asasi manusia Amerika Serikat telah mengumandangkan kecamannya atas kekerasan yang dilakukan aparat kepolisian Kenya, yang mengakibatkan satu pendemo tewas.
Terkait kasus ini, pejabat kepolisian Jenderal Joseph Boinnet menegaskan, petugas tak akan memberikan izin untuk pelaksanaan unjuk rasa, kerena kelompok oposisi itu tidak menginformasikan intensi mereka kepada polisi.