LANGSARatusan imigran Rohingya yang kini ditampung di kamp penampungan Bayeun, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur, dilaporkan telah melarikan diri. Mereka kabur dengan alasan yang…
LANGSARatusan imigran Rohingya yang kini ditampung di kamp penampungan Bayeun, Kecamatan Rantau Selamat, Kabupaten Aceh Timur, dilaporkan telah melarikan diri. Mereka kabur dengan alasan yang tidak jelas. Namun, sebagian pengungsi mengatakan, imigran yang kabur via Medan untuk selanjutnya berangkat ke Malaysia.
Informasi itu disampaikan anggota Komisi 1 DPR Aceh Iskandar Usman Al-Farlaky, usai melakukan kunjungan ke kamp penampungan Rohingya di Rantau Selamat, Senin, 5 September 2016.
Kita dapat laporan bahwa imigran kabur dengan cara mengelabui petugas keamanan di sana. Ada yang pergi malam hari dengan cara menyeberangi lintasan sungai yang ada di belakang kamp penampungan, jelas Iskandar.
Anggota DPR Aceh yang membidangi politik, hukum, keamanan, dan pemerintahan ini menambahkan, dirinya saat melakukan kunjungan ke kamp penampungan bertemu langsung dengan para imigran. Menurut imigran yang masih tinggal di kamp, ujar Iskandar, para imigran kabur via Medan yang selanjutnya ke Malaysia untuk bekerja.
Dari laporan yang mereka sampaikan, termasuk juga dari petugas ada pihak yang menjemput khusus semacam agen dari Medan, katanya.
Iskandar Farlaky menambahkan, imigran yang kabur setelah berhasil keluar dari kamp kemudian dinaikkan mobil penumpang yang sudah disiapkan khusus. Saat ini imigran yang tinggal di kamp penampungan tersisa hanya 99 orang termasuk anak- anak dan perempuan. Jumlah awal mereka 409 orang sudah termasuk di dalamnya imigran asal Bangladesh.
Yang kita khawatirkan, mereka menjadi korban trafficking oleh para agen. Ini sangat berbahaya sekali, jelas mantan aktivis mahasiswa jebolan UIN Ar-Raniry ini.
Politisi Partai Aceh ini mengungkapkan, imigran Rohingya yang ditampung di sana sudah beradaptasi dan sangat akrab dengan warga setempat,. Di antara mereka sudah ada yang bisa berbahasa Indonesia bahkan bahasa Aceh. Guna menghindari aksi pelarian imigran, anggota DPRA ini mendesak pihak UNHCR (United Nations High Commissioner for Refugees) dan IOM (International Organiztions Migrasion) untuk merespon cepat dengan memberikan informasi pasti ke negara mana mereka akan dibawa selanjutnya.
Harus ada kepastian. Saat saya berkunjung memang tidak bertemu dengan staf IOM dan UNHCR, kami ditemani oleh camat Rantau Selamat, Faisal Idris, namun urgen sekali imigran ini akan dibawa ke negara ketiga yang mana, sehingga imigran mendapat kepastian. Kita berharap, ada penanganan cepat, jangan sampai kamp menjadi kosong, sementara belum ada kejelasan nasib imigran ini, kata Iskandar Usman Al-Farlaky.[](ihn)